Mommies Daily – 50 Pertanyaan yang Perlu Anda Diskusikan dengan Pasangan Sebelum Memiliki Anak


Sebelum mempunyai anak, diskusikan dan lakukan perencanaan yang matang baik secara fisik, mental, materi dan aspek lainnya, demi terciptanya keluarga sejahtera.

Seiring berkembangnya zaman, ada baiknya setiap pasangan melakukan persiapan dan perencanaan matang sebelum memiliki anak. Mengapa? Sebab mempunyai anak bukan sekedar memenuhi keinginan mempunyai anak atau beregenerasi.

Memiliki anak merupakan paket lengkap kebahagiaan beserta tanggung jawab yang dianugerahkan Tuhan kepada manusia. Bukan hanya anak-anak yang bisa melucu, tapi tantangannya juga ada semua. Maka dari itu, dalam menjalankan peran sebagai orang tua, kita perlu membekali diri dengan persiapan yang menyeluruh, mulai dari kesiapan fisik, mental, spiritual, hingga finansial guna mencapai kesejahteraan keluarga.

Jangan sampai ketika anak sudah lahir, kita mangkir dari tanggung jawab, tidak siap mental untuk mengasuhnya, tidak mempunyai cukup dana untuk menafkahinya, tidak mau membagi waktu, sehingga menimbulkan keretakan rumah tangga, dan kemudian anaklah yang terdampak. Oh, jangan sampai itu terjadi ya, Moms!

Oleh karena itu, luangkan waktu sebanyak mungkin untuk mendiskusikannya dengan pasangan, sebelum memiliki anak. Bila perlu lakukan sebelum menikah, agar kalian saling memahami visi dan misi terkait anak.

50 Pertanyaan untuk Didiskusikan dengan Pasangan Sebelum Memiliki Anak

Berikut daftar pertanyaan yang bisa dijadikan panduan diskusi bagi pasangan sebelum memiliki anak. Bukan sebagai bahan perdebatan, namun sebagai bahan refleksi dan perencanaan ke depan, guna mengetahui kesiapan masing-masing pasangan.

1. Mengapa kita ingin punya anak?

Apakah ini keinginan kedua belah pihak, atau ada tekanan dari lingkungan atau keluarga? Sempurnakan tujuan Anda ingin memiliki anak.

2. Apakah kita siap mempunyai anak?

Apakah tubuh Anda benar-benar dalam kondisi sehat untuk memulai program kehamilan? Lalu secara finansial, apakah dana untuk pemeriksaan kehamilan dan persalinan sudah direncanakan? Lalu ketika anak sudah lahir, apakah orang tua sudah siap bekerja sama dalam merawat dan mengasuh sang buah hati?

3. Berapa jumlah anak yang ingin anda miliki?

Jangan sampai dipakai prinsip “banyak anak, banyak rejeki” alias tak terbatas. Selain kesejahteraan finansial, mental dan fisik para ibu juga tak terbatasha ha ha. Di tengah kehidupan yang penuh ketidakpastian, mengikuti anjuran pemerintah “dua anak saja sudah cukup” tampaknya bijaksana.

4. Apakah saya dalam kondisi mental yang baik untuk memiliki anak?

Apakah ada masalah psikologis yang belum terselesaikan pada diri saya atau pasangan saya? Misalnya trauma pengasuhan semasa kecil, mengalami masalah emosi, dan lain sebagainya.

5. Apa latar belakang pengasuhan saya dan pasangan saya?

Apakah ayah dan ibu dibesarkan dengan pola asuh alami dan normal, atau otoriter? Apakah ada perceraian atau kematian orang tua yang berdampak pada saya atau pasangan saya setelah dewasa?

6. Apakah perlu berkonsultasi dengan psikolog sebelum berencana memiliki anak?

Jika dirasa perlu, silakan berkonsultasi dengan psikolog untuk memastikan kesiapan mental sebelum memiliki anak.

7. Pola asuh seperti apa yang Anda inginkan dalam membesarkan anak Anda?

Misalnya saja kita merasa sebelumnya kita dibesarkan dengan cara yang otoriter atau permisif, kini kita tidak mau lagi menggunakan cara itu, dan lebih memilih pola asuh yang otoritatif.

8. Apakah Anda siap meluangkan waktu untuk bersama anak Anda?

Waktu pribadi dan sosial tentu akan terpengaruh setelah memiliki anak. Sebab, kita perlu hadir secara penuh untuk menstimulasi dan mendampingi anak yang bermanfaat bagi tumbuh kembangnya.

9. Apakah kondisi keuangan kita saat ini cukup stabil untuk memiliki anak?

Bila belum cukup stabil, apakah ingin menunda kehamilan, atau tetap menjalankan program kehamilan dengan biaya yang disesuaikan?

10. Apakah perlu ke dokter sebelum merencanakan kehamilan?

Secara umum hal ini disesuaikan dengan usia pernikahan. Namun, jika Anda memutuskan sejak awal untuk memeriksakan diri ke dokter, tidak masalah.

Baca juga: MD Tanya Pakar: Kontrasepsi dari Sisi Medis dan Agama

11. Berapa estimasi biaya pengirimannya?

Hal ini berguna untuk mempersiapkan anggaran pemeriksaan kehamilan hingga persalinan. Termasuk juga mendiskusikan metode penyampaian yang ingin Anda gunakan.

12. Apakah kita sepakat mengenai imunisasi dan layanan kesehatan anak?

Jika terdapat perbedaan pendapat mengenai imunisasi anak, maka inilah saatnya mendiskusikannya dengan pasangan.

13. Bagaimana jika anak berkebutuhan khusus?

Termasuk persiapan mental dan finansial jika ternyata Tuhan menitipkan anak berkebutuhan khusus kepada kita.

14. Sudahkah kita menyiapkan manfaat kesehatan untuk anak dan keluarga?

Setidaknya siapkan BPJS Kesehatan, atau asuransi kesehatan lainnya jika memungkinkan.

15. Bagaimana dengan tabungan pendidikan anak?

Agar Anda tidak kaget dengan persiapan finansial ketika tiba waktunya anak Anda bersekolah.

16. Kemana Anda ingin menyekolahkan anak Anda di masa depan?

Tidak ada waktu yang terlalu lama untuk mempersiapkan rencana sekolah anak. Hal ini penting untuk kemudian mempersiapkan jenis sekolah yang paling cocok untuk anak dan biaya pendidikannya.

17. Setelah cuti melahirkan selesai, siapa yang mengasuh anak selama saya dan pasangan bekerja?

Apakah Anda diasuh oleh pengasuh, atau dibantu oleh keluarga, atau ditinggalkan di tempat penitipan anak?

18. Apakah kita mempunyai sistem pendukung yang sehat?

Misalnya orang tua, kakak, adik, asisten rumah tangga membantu kita menjalankan tugas dan tanggung jawab agar berjalan maksimal?

19. Apakah kita bersedia untuk terus belajar dan berkembang dalam perjalanan kita menjadi orang tua?

Artinya pergi ke kelas mengasuh anakkelas stimulasi anak, membaca buku dari bayi hingga remaja. Karena untuk menangani tumbuh kembang anak di setiap fasenya, kita juga perlu bertumbuh.

20. Apa prinsip kami mengenai screen time untuk anak-anak?

Misalnya, tidak memberikan screen time kepada anak di bawah usia 2 tahun, tidak berhak memiliki perangkat hingga usia tertentu, dan lain sebagainya.

21. Bagaimana pembagian tugas rumah tangga?

Perlu ditentukan tugas dan tanggung jawab masing-masing pasangan dalam rumah tangga.

22. Bagaimana pembagian tugas pengasuhan anak?

Misalnya ibu membuatkan makanan untuk anak, memandikannya, kemudian ayah membacakan cerita sebelum tidur; dan bergantian sesuai kebutuhan.

23. Bagaimana kita mengajarkan anak tentang agama atau spiritualitas?

Siapkah orang tua berkomitmen mengajarkan nilai-nilai spiritual kepada anak demi pertumbuhan spiritualnya?

24. Lingkungan seperti apa yang kita inginkan agar anak-anak tumbuh?

Apakah perlu berpisah dengan orang tua, perlukah kembali pulang jika saat ini tinggal di apartemen?

25. Apakah ibu akan tetap bekerja setelah mempunyai anak?

Hal ini penting untuk menentukan siapa yang akan menjaga anak selama ibu bekerja.

26. Apakah kita mempunyai pola pikir “boleh saja suami menjadi ibu rumah tangga?”

27. Bagaimana cara Anda menjaga kualitas hubungan setelah memiliki anak?

28. Bagaimana cara mengatur hubungan seksual setelah mempunyai anak?

29. Apakah kita mempunyai dana darurat?

30. Apakah kita siap menyesuaikan gaya hidup setelah memiliki anak?

31. Bagaimana kita menetapkan prioritas mengenai keuangan keluarga?

32. Apa yang kita lakukan jika kita mengalami konflik, baik terkait dengan anak atau tidak, apakah kita siap dengan metode mediasi yang sehat?

33. Bagaimana kita mengelola pendapatan masing-masing untuk kebutuhan keluarga dan pribadi?

34. Apakah kita sepakat untuk saling mengizinkan waktu untuk diri sendiri Dan waktu sosial setelah menjadi orang tua?

35. Apakah kita sepakat untuk terus saling mendukung pertumbuhan masing-masing baik secara individu, karir dan hal lain setelah menjadi orang tua?

35. Apa yang akan kita lakukan saat mengalami kelelahan mengasuh anak?

36. Apakah kita siap memberikan dukungan mental atau dukungan lainnya kepada pasangan kita ketika pasangan kita stres atau lelah?

37. Cara merawat batasan pengasuhan anak dengan keluarga besar apakah anak ditolong oleh keluarga selama kita bekerja?

38. Apakah ibu siap menyusui saat bayinya lahir, dan apakah ayah siap mendukung ibu dalam menyusui?

39. Nilai-nilai apa yang ingin kita tanamkan pada anak?

40. Apakah kita siap mendukung anak dalam setiap fase tumbuh kembangnya?

41. Bagaimana kita bisa belajar mengelola ekspektasi kita terhadap anak-anak kita di masa depan?

42. Apakah Anda siap menghadapi perbedaan pendapat setelah menjadi orang tua?

43. Apakah Anda siap begadang untuk merawat bayi Anda di awal kelahirannya?

44. Mau belajar mengganti popok, terkena cipratan gumoh bayi, menggendong bayi kapanpun bayi perlu merasa aman?

45. Siapkah Anda menerapkan pola hidup sehat demi panjang umur demi kekeluargaan?

46. ​​​​Siap belajar memahami skala prioritas antara kepentingan keluarga dan kepentingan pribadi?

47. Pada usia pernikahan berapakah program kehamilan lanjutan seperti inseminasi buatan atau bayi tabung dianggap perlu?

48. Apakah Anda mempunyai dana yang cukup untuk program kehamilan?

49. Apakah Anda siap memiliki anak dengan jenis kelamin apa pun, dan tidak memaksakan diri untuk memiliki anak dengan jenis kelamin tertentu?

50. Terakhir, tetapi tidak kalah pentingnama apa yang ingin kamu berikan pada anakmu?

Sebagai catatan, diskusilah dengan santai, dan tidak perlu membahas semuanya sekaligus ya, Moms. Anda bisa melakukannya secara bertahap atau setidaknya mendiskusikan apa yang dianggap paling prioritas terlebih dahulu. Jangan kaget bila menemukan perbedaan pendapat. Inilah saatnya belajar menghormati dan menyetujui satu sama lain.

Baca juga: 5 Alasan Masalah Keuangan Bisa Ganggu Hubungan, Jangan Sepelekan!

Sampul: Gambar oleh tirachardz di Freepik


News
Berita Teknologi
Berita Olahraga
Sports news
sports
Motivation
football prediction
technology
Berita Technologi
Berita Terkini
Tempat Wisata
News Flash
Football
Gaming
Game News
Gamers
Jasa Artikel
Jasa Backlink
Agen234
Agen234
Agen234
Resep
Cek Ongkir Cargo
Download Film