Bunda, sudah baca Broken Strings karya Aurélie Moeremans yang dibagikan gratis di Instagram-nya? Banyak pelajaran berharga bagi para orang tua!
Di penghujung tahun 2025, aktris sekaligus penyanyi Aurélie Moeremans menulis memoar berjudul Broken Strings, versi PDF yang ia bagikan secara gratis melalui link di profil Instagram pribadinya. Namun istri dokter chiropraktik asal California, Tyler Bigenho, mengingatkan pembaca bahwa buku ini mungkin bisa memicu trauma, apalagi jika pembaca pernah mengalami pengalaman serupa, yakni hubungan beracun, perawatan anak dan kekerasan seksual.
Sedikit tentang Tali Rusak
Dalam memoarnya ini, Aurélie menceritakan pengalaman sedihnya saat berusia 15 tahun. Saat itu, Aurélie memulai karirnya di dunia entertainment. Dia bertemu dengan seorang pria bernama Bobby yang awalnya mencoba mendekatinya dengan cara yang sopan dan manis, namun pada akhirnya menyeret Aurélie ke dalam suatu tindakan. perawatan anakbahkan sampai kawin paksa. Selama menjalin hubungan dengan Bobby, Aurélie tak hanya mengalami pelecehan dan kekerasan seksual, ia juga menghadapi berbagai ancaman, bahkan harus tinggal satu atap dengan keluarga Bobby yang tidak menganggap hal tersebut sebagai sesuatu yang tidak wajar.
Membacanya, selain membuatku merasa sedih karena membayangkan perjuangan tunggal Aurélie untuk melepaskan diri dari jeratan pelakunya, juga membuatku sebagai orang tua semakin sadar untuk menanamkan nilai-nilai penting demi keselamatan anak-anakku di masa depan. Dibantu penjelasan psikolog anak dan remaja, Anastasia Satriyo, M.Psi., melalui unggahannya di Benangmengikuti:
Pelajaran berharga bagi orang tua dari kisah Aurélie Moeremans
Latar belakang ekonomi dan pola asuh orang tua membentuk karakter anak
Aurélie tumbuh di keluarga yang mengalami tekanan ekonomi, orang tuanya juga cukup protektif sehingga hidup dalam keterbatasan membuatnya merasa tidak punya banyak pilihan. Begitu ia menerima hadiah, bukan perasaan senang yang menyelimutinya, melainkan perasaan bersalah memikirkan pengorbanan orang tuanya.
Psikolog Anastasia Satriyo, M.Psi., menjelaskan, orang tua juga bersifat protektif ketat dan kekerasan, serta minimnya ruang berdialog, dapat membentuk remaja yang patuh hanya demi rasa aman, takut akan konsekuensi, bahkan terbiasa menyalahkan diri sendiri.
Di satu sisi, Aurélie memang anak yang penurut, rajin belajar, dan pintar di sekolah. Namun di sisi lain, ia tidak mendapat kesempatan untuk bertukar pikiran dengan orang tuanya. Padahal, melalui ruang dialog, anak berkesempatan mendapatkan segala bentuk dukungan orang tua yang dapat meningkatkan perkembangannya harga diridia.
Baca juga: Remaja sering ketinggalan? Kenali Tanda-Tanda Rendahnya Harga Diri pada Remaja dan Cara Mengatasinya
Pentingnya mendampingi remaja saat memulai karir di usia muda
Di usia 15 tahun ini kita tidak bisa membiarkan anak kita mengambil keputusan sendiri, mereka tetap perlu didampingi terutama saat memasuki dunia kerja. Kemandirian anak tetap bisa kita latih selain membiarkannya beraktivitas sendiri. Anak dapat belajar mengatur waktu dan mempersiapkan diri ketika harus bekerja di luar jam sekolah. Namun, kita juga harus mewaspadai dunia hiburan─bahkan dunia mana pun selain hiburan─Lautan luas yang memungkinkan anak-anak bertemu dengan berbagai jenis predator. Meski tidak terlihat terlalu berbahaya, namun mereka punya berbagai cara untuk mengendalikan pikiran remaja.
Psikolog Anastasia Satriyo, M.Psi., menjelaskan fase menjadi artis di usia muda bisa membuat remaja cenderung mengalami ketergantungan emosional, takut kehilangan karier, bahkan kebingungan membedakan antara hubungan pribadi dan eksploitasi. Remaja belum mampu menentukan pilihan secara matang sehingga lebih rentan terjebak.
Kita tidak bisa membuat anak-anak bertanggung jawab secara finansial
Aurélie mengalami situasi ketika ayahnya “meminjam” uang jajan yang diterimanya dari kakeknya. Padahal, ia paham uang tidak datang dengan mudah. Ketika karirnya mulai stabil pada usia 15 tahun, dia juga membantu membayar tagihan rumah. Aurélie mengatakan, dia tidak tahu berapa banyak uang yang dia hasilkan, karena semuanya masuk ke rekening ibunya.
Anak-anak tidak bertanggung jawab secara finansial. Apalagi jika kita tidak menjelaskan secara gamblang bahwa uang yang diterima anak kita akan kita gunakan untuk kebutuhan sehari-hari. “Izin”Di sini hendaknya diterapkan, mengingat uang adalah hak anak dan hasil jerih payahnya, yang kemudian digunakan untuk hal-hal yang seharusnya menjadi tanggung jawab orang tua.
Pentingnya mewaspadai perubahan perilaku remaja
Apalagi kalau anak itu punya pacar. Anak-anak perlu memilikinya batasan atau batasan antara dirinya dan pacarnya. Kita sebagai orang tua perlu terus mendidik anak kita mengenai hal ini. Sehingga ketika kita melihat perubahan pada anak kita, kita juga bisa mengambil tindakan tegas. Ibu Aurélie melihat sendiri pola hubungan putranya dan Bobby. Aurélie tak terlihat bahagia saat berpacaran, bahkan sering terlihat bertengkar.
Saat anak berpacaran, akan ada kecenderungan untuk menutup-nutupi kisah nyata, demi kenyamanan dan keamanan. Meski demikian, orang tua tetap perlu mewaspadai tindakan yang menyebabkan anak mengalami tekanan. Ada kalanya anak dipaksa untuk menurut, bahkan menutupi berbagai perilaku tidak normalnya. Berbicara empat mata dengan pacar anak Anda saja tidak cukup. Kami masih perlu memantau hubungan mereka.
Baca juga: Bucin Remaja? Lakukan Ini Agar Mereka Memahami Batasan Kencan yang Sehat
Waspada terhadap berbagai bentuk tindakan perawatan anak
Psikolog Anastasia Satriyo, M.Psi., menjelaskan tindakan itu perawatan anak awalnya bekerja melalui manipulasi, bukan kekerasan langsung. Biasanya pelaku akan datang sebagai “penyelamat”, memberikan kesan sebagai “yang paling mengerti”, “yang paling membela”, memberikan perhatian ketika korban merasa kesepian, sehingga perlahan-lahan ia mengaburkan batas-batas tersebut (apa yang wajar, apa yang salah). Korban tidak akan merasa diserang, namun akan merasa “Aku membutuhkannya”.
Berhati-hatilah dalam menanggapi bila Anda kecewa dengan kelakuan anak Anda
Wajar jika kita melihat respon ibu Aurélie yang terdiam lalu berteriak saat mengetahui putrinya telah diserahkan menjadi istri orang lain, tanpa sepengetahuannya. Saat membaca ini, saya merinding membayangkan betapa sakit hati yang dirasakan ibu Aurélie. Namun yang lebih menyedihkan lagi adalah respon yang diterima Aurélie. Sebagai korban yang saat itu seharusnya didengarkan, dilindungi, dijaga dan diperjuangkan, malah mendapat perlakuan sebaliknya, Aurélie harus menerima berbagai penolakan, tidak diakui lagi sebagai anak-anak, bahkan diusir dari rumah.
Pelajaran penting yang bisa diambil adalah bagaimana kita harus menjaga diri saat menyikapi kekecewaan. Meski saat itu kita sedang diliputi amarah, namun perlu kita sadari bahwa anak juga merasakan emosi yang luar biasa dan perlu kita rangkul. Dalam kasus ini, karena langsung mendapat penolakan dari ibunya, Aurélie kemudian mencoba berbagai cara agar ibunya memaafkannya. Alih-alih mendapat maaf, Aurélie justru merasa mendatangi rumah Bobby adalah pilihan yang tepat. Nyatanya, di situlah penderitaannya berlanjut.
Orang tua yang peduli tidak akan tinggal diam ketika anaknya berperilaku tidak pantas
Jika kita melihat kisah hidup Bobby melalui perlakuan orang tuanya yang saat itu satu atap dengan Aurélie ketika ia mengalami berbagai bentuk pelecehan dan penyiksaan, kita pasti akan terheran-heran, “Bagaimana bisa orang tua Bobby membiarkan hal itu terjadi pada Aurélie yang merupakan istri dari anak mereka?”
Namun melihat sifat dan perilaku Bobby sebagai pelaku perawatan anakrasanya buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Ibu Bobby digambarkan sebagai sosok yang tidak pernah menganggap anaknya salah. Segala sesuatu yang dilakukan Bobby, bahkan yang menyimpang sekalipun, tetap dibenarkan oleh orang tuanya. Tak heran jika semua pembaca berspekulasi bahwa Bobby dan keluarganya adalah sekelompok orang bermasalah.
Jangan menunggu anak Anda mengalami kehancuran terus menerus
Psikolog Anastasia Satriyo, M.Psi. juga memberikan penjelasan mengenai tiga respon tubuh pada kondisi trauma yaitu bertarung (menolak), penerbangan (kabur), dan membekukan (membekukan). Sebuah keajaiban terjadi melalui respon tubuh Aurélie sebagai bentuk perlawanannya saat mengalami menstruasi terus menerus. Hal ini sedikit melegakan karena menutup kemungkinan Aurélie memiliki anak dari kawin paksa tersebut. Sebagai pembaca, kita pun merasa lega ketika Aurélie akhirnya berhasil lepas dari kekuasaan Bobby. Namun hal tersebut tidak mengurangi rasa kecewa, takut bahkan trauma yang harus ia alami. Tidak peduli seberapa jauh dia melangkah, dia masih memiliki bagian dari masa mudanya yang rusak. Sehingga patut menjadi pembelajaran bagi kita, jangan sampai perbuatan salah kita menyebabkan anak-anak mengalami kehancuran terus menerus.
Kita patut mengapresiasi kemurahan hati Aurélie dalam menulis cerita ini. Tujuan mulianya adalah untuk “menyelamatkan” gadis-gadis di luar sana yang mungkin mengalami hal serupa. Namun, hal ini juga harus menjadi kekhawatiran bagi mereka yang seharusnya melindungi anak perempuan. Dan semoga seluruh orang tua yang membaca cerita ini dapat terus sadar akan tugas dan tanggung jawabnya dalam melindungi anak-anaknya.
News
Berita Teknologi
Berita Olahraga
Sports news
sports
Motivation
football prediction
technology
Berita Technologi
Berita Terkini
Tempat Wisata
News Flash
Football
Gaming
Game News
Gamers
Jasa Artikel
Jasa Backlink
Agen234
Agen234
Agen234
Resep
Cek Ongkir Cargo
Download Film