Mommies Daily – Andi JG : Belajarlah menjadi ayah seutuhnya dan hadir untuk anak-anakmu

Mulai dari dunia IT hingga mengasuh anakAndi JG menemukan arti menjadi ayah seutuhnya dan berusaha membesarkan anaknya menjadi versi terbaik dari dirinya.

Menjadi orang tua seringkali terasa seperti sebuah perjalanan tanpa peta. Namun bagi Andi JG, CPC, FPCM, satu Permainan Berbakti & Pelatih Kehidupanperjalanan itu sebenarnya dimulai dengan satu pertanyaan sederhana: apa yang sebenarnya membuat hidup terasa penuh?

Dari seseorang insinyur Di bidang telekomunikasi, Andi yang akrab disapa Mas JG menemukan arah baru dalam hidupnya. Bukan hanya soal karir, tapi menjadi ayah yang hadir sepenuhnya, memahami anak, dan membangun keluarga dengan nilai-nilai yang kuat.

Mommies Daily pun berkesempatan ngobrol langsung dengan sosoknya. Yuk, kita saling mengenal lebih dekat.

BACA JUGA: Darius Sinathrya: Belajar Menjadi Ayah yang Hadir Seutuhnya kepada Remaja

Berawal dari Mencari “Kepenuhan” dalam Hidup

Sebelum dikenal sebagai Pelatih Kehidupan & Permainan Berbakti BersertifikatAndi merupakan seorang pekerja di dunia IT. Jalur karir yang diambilnya tidak sepenuhnya merupakan pilihan pribadi, melainkan hasil dari harapan orang tuanya, sebuah kisah yang mungkin terasa dekat bagi banyak dari kita.

Namun, di tengah kesibukan dan kestabilan pekerjaan, ada satu hal yang ia sadari kurang. “Saya sudah melakukan pekerjaan itu, tapi hati saya belum sepenuh hati,” kata Andi.

Pandemi ini merupakan titik balik. Andi mulai mengalaminya kecemasan dan akhirnya menjalani terapi. Bersama sang istri, Annisa Stevani, perlahan ia mulai mencari jawaban sendiri.

Pertanyaan sederhana muncul, “Apa yang kamu suka?”, “Apa yang membuatmu merasa kenyang?”

Dalam proses itu ia jalani selama kurang lebih dua tahun, termasuk hingga terapi bermainAndi mulai benar-benar mengenal dirinya. Dia menyadari bahwa dia merasa jauh lebih “hidup” ketika berinteraksi langsung dengan manusia—manusia ke manusia—terutama dengan anak-anak, dibandingkan dengan layar komputer.

Dari situlah langkah-langkah memasuki dunia mengasuh anak dimulai.

Membangun Nilai-Nilai Kekeluargaan, Bukan Sekedar Rutinitas

Hari-hari Andi tak lagi sekadar soal pekerjaan teknis. Dia fokus membangun nilai-nilai keluargaseperti nilai-nilai yang ingin ditanamkan, dijalani, dan diteruskan.

Bagi Andi, setiap peran dalam hidup perlu dimainkan secara sadar: sebagai ayah, sebagai suami, dan sebagai individu. “Setiap peran harus terisi penuh. Kalau ada yang kosong, yang lain tidak maksimal,” jelasnya.

Nilai Ini tidak berhenti pada konsepnya saja. Ia hadir dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari cara ia berkomunikasi, mengambil keputusan, hingga bagaimana ia benar-benar hadir untuk anak dan pasangannya.

Dari “Bercerita Berkali-kali” hingga Membangun Koneksi

Dalam perjalanannya sebagai Permainan Berbakti & Pelatih KehidupanAndi tak merasa mengubah prinsipnya mengasuh anaksecara drastis. Namun ada satu hal penting yang berkembang yaitu cara.

Dulu, seperti kebanyakan orang tua, ia terbiasa mengingatkan anak-anaknya berulang kali. Kini, dia memilih pendekatan berbeda.

Koneksi sebelum koreksi. Apakah koneksi sudah terjalin atau belum? Kalau koneksinya sudah terbangun, maka koreksinya akan lebih baik.”

Jadi, daripada langsung memberikan instruksi, Andi akan memastikan perhatian anaknya terlebih dahulu, mulai dengan melakukan kontak mata, hadir secara utuh, lalu menyampaikan pesan dengan tenang. Ia juga menekankan pentingnya menyesuaikan permintaan dengan usia dan kemampuan anak.

Hasilnya? Anak menjadi lebih kooperatif, tanpa perlu diingatkan berulang kali.

Membesarkan Anak dengan Pendekatan “Bottom-Up”.

Dari pengalamannya, Andi memahami bahwa setiap manusia memulai kehidupannya sejak masa kanak-kanak. Oleh karena itu, ia ingin membangun anaknya dari landasan itu, bukan dari ekspektasi orang tua.

Dia memilih pendekatan tersebut dari bawah ke atasTIDAK dari atas ke bawah. “Membangun kualitasItu saja dari bawah ke atasTIDAK dari atas ke bawah,” jelas Andi. Ia kemudian menceritakan pengalaman pribadinya. “Dulu mamaku menginginkan aku seperti itu insinyur. Jadi semuanya diarahkan ke sana. Itu dari atas ke bawah.”

Kini, dia memilih pendekatan berbeda untuk anaknya. “Saya ingin anak-anak dibangun dari awal. Apa versi terbaiknya? Apa yang mereka sukai?” dia menjelaskan.

Artinya, anak diberikan ruang untuk mengeksplorasi minatnya, sedangkan orang tua tetap hadir sebagai pendukung, dengan nilai keluarga sebagai fondasinya.

“Saya ingin anak saya menjadi versi terbaik dirinya, bukan versi saya yang menentukan,” ujarnya.

Dalam kesehariannya, Andi memberikan kebebasan kepada putranya, Xylo, untuk mencoba berbagai aktivitas, mulai dari olahraga hingga hobi lainnya. Tidak masalah jika Anda berhenti di tengah jalan, yang penting Anda menjalankan prosesnya dengan sungguh-sungguh. Namun, jangan lupakan semua itu dengan tetap dibarengi dengan penanaman nilai-nilai dasar dan nilai keluarga, seperti berpikir analitis melalui matematika, sains, dan bahasa.

“Jadi waktu kecil dia jadi versi terbaik dirinya, pas SMP dia jadi versi terbaik dirinya, begitu juga SMA dan kuliah. Dan dimanapun dia berada, dia menjadi versi terbaik karena pondasinya bagus, ditambah dengan nilai-nilai, dan apa yang disukainya,” harap Andi.

3 Tips Parenting dari Andi JG untuk Membesarkan Anak Laki-Laki

Dari pengalamannya, Andi menceritakan tiga hal penting yang ia terapkan dalam membesarkan anak laki-laki:

1. Membangun kedekatan sejak dini

Kedekatan tidak dibangun saat anak laki-laki memasuki usia remaja, melainkan sejak anak baru lahir. “Ada yang bilang anak laki-laki harus dekat dengan ibunya, dan anak perempuan harus dekat dengan ayahnya. Tidak. Kami berdua (saya dan istri) harus dekat dengan anak-anak kami.

2. Ayah harus aktif pada fase krusial

“Nanti kalau kamu sudah dewasa pra-remaja Bagi remaja, orang tua yang berjenis kelamin sama harus lebih dekat dengan anaknya untuk mengajar pendidikan seksLanjut Andi. Di usia anak yang mulai memahami identitas gender dan seksualitas, peran ayah sangat penting terutama bagi anak laki-laki.

3. Habiskan waktu bermain bersama

Andi pun bercerita bahwa dirinya selalu punya waktu untuk bermain bersama putranya. “Saya punya waktu khusus yang cukup untuk bermain bersama anak-anak. Kami bermain bola bersama dan juga ngobrol,” ujarnya. Bermain bukan sekadar aktivitas, melainkan cara membangun hubungan hangat di dalamnya.

Ingin menjadi ayah yang penasaran

Saat ditanya ingin menjadi ayah seperti apa, jawaban Andi terdengar sederhana, namun memiliki makna yang dalam.

“Saya ingin selalu menjadi seorang ayah penasaran,” jawabnya. Bukan sekedar ingin tahu atau penasaran, tapi benar-benar memahami apa yang dirasakan anak, apa yang dia minati, dan bagaimana dia tumbuh. “Supaya dia benar-benar bisa menjadi versi terbaik dari dirinya.”

Tantangan Ayah di Indonesia: Bukannya Tidak Bisa, Tapi Belum Biasa

Menurut Andi, tantangan terbesar ayah di Indonesia dalam mendampingi tumbuh kembang anaknya bukan soal kemampuan, melainkan kerangka berpikir.

Masih banyak ayah yang:

  • tidak memahami kebutuhan anak pada setiap usia,
  • belum terlibat aktif dalam mengasuh anak,
  • atau masih merasa mengasuh anak adalah “urusan ibu”.

Sebenarnya kuncinya sederhana saja, yaitu “Miliki pertumbuhan kerangka berpikir dan ingin belajar,” jelas Andi.

Hal ini bisa dimulai dari memahami tahapan tumbuh kembang anak, mengenali kebutuhan emosionalnya, hingga mempelajari cara berkomunikasi yang baik.

Ia juga menekankan pentingnya mengubah cara pandang dalam menyikapi anak. “Pola pikir yang terbaik bukan cemasTetapi penasaran. Penasaran tentang apa yang dibutuhkan dan ingin diketahui anak. “Kalau kita cemas, respon kita kurang tepat karena didasari oleh kecemasan,” ujarnya.

Pesan untuk Ayah (dan Ibu Juga): Penuhi Setiap Peran

“Setiap peran dalam hidupmu harus kamu isi dengan maksimal, harus 100%. Kalau kamu sekarang jadi pegawai, jadilah pegawai yang profesional. Kalau sekarang peranmu juga sebagai pasangan, kamu juga harus profesional untuk mencintai pasanganmu, menyediakan dia, dan jangan lupa berkencan. Lalu juga peranmu sebagai dirimu sendiri. Penuhi diri Anda dengan hobi dan luangkan waktu untuk diri sendiri. “Karena ketika kita sudah penuh dengan diri kita sendiri, kita hanya bisa benar-benar hadir untuk peran lain, termasuk keluarga dan sebagai seorang ayah,” tutupnya.

BACA JUGA: Arlien Panambang: Tetap Dekat Secara Emosional dengan Remaja Meski Sibuk Bekerja

Foto: Dok. Pribadi


PakarPBN

A Private Blog Network (PBN) is a collection of websites that are controlled by a single individual or organization and used primarily to build backlinks to a “money site” in order to influence its ranking in search engines such as Google. The core idea behind a PBN is based on the importance of backlinks in Google’s ranking algorithm. Since Google views backlinks as signals of authority and trust, some website owners attempt to artificially create these signals through a controlled network of sites.

In a typical PBN setup, the owner acquires expired or aged domains that already have existing authority, backlinks, and history. These domains are rebuilt with new content and hosted separately, often using different IP addresses, hosting providers, themes, and ownership details to make them appear unrelated. Within the content published on these sites, links are strategically placed that point to the main website the owner wants to rank higher. By doing this, the owner attempts to pass link equity (also known as “link juice”) from the PBN sites to the target website.

The purpose of a PBN is to give the impression that the target website is naturally earning links from multiple independent sources. If done effectively, this can temporarily improve keyword rankings, increase organic visibility, and drive more traffic from search results.

Jasa Backlink

Download Anime Batch