Mommies Daily – Ini Tanda-tanda Overstimulasi pada Anak Saat Liburan


Saat liburan, anak mungkin merasakan rangsangan berlebihan atau overstimulasi. Penting bagi Mommy untuk mengenali tanda-tanda pencegahannya sejak awal!

Musim liburan, terutama menjelang Natal dan Tahun Baru, merupakan momen yang sangat meriah. Bagi yang merayakan, rumahnya tampil beda dengan dekorasinya, biasanya berupa pohon natal lengkap dengan lampu dan musik pengiringnya. Itu hanya hiasan saja, belum lagi penampakan seorang kerabat yang tiba-tiba datang entah dari mana. Bagi sebagian anak, terutama mereka yang mengandalkan rutinitas atau memiliki kepekaan sensorik, hal ini dapat menyebabkan rangsangan berlebihan.

Bayangkan, rutinitas mereka yang biasanya sepi menjadi begitu sibuk saat liburan. Alih-alih menikmati keceriaan liburan, anak justru malah kewalahan bahkan tantrum. Mungkin ada baiknya untuk mengurangi kemeriahan liburan.

Psikolog anak Kristin Edwards menyarankan agar orang tua mengevaluasi kegiatan dan acara yang ingin mereka ikuti selama liburan.

“Dua hal yang menurut saya dapat dipikirkan orang tua adalah seberapa besar ketidaknyamanan sensorik yang ditimbulkannya? Dan seberapa bermakna aktivitas tersebut bagi keluarga?” ujarnya seperti dikutip dari Parents.

Menurutnya, jika aktivitas tersebut tidak terlalu penting dan dapat menimbulkan rangsangan berlebihan maka bisa dihilangkan. Namun kenyataannya tentu tidak semudah itu kan, Bu. Jika hal ini terjadi, ada baiknya melakukan antisipasi dengan mencari tanda-tanda rangsangan berlebihan saat liburan pada anak.

BACA JUGA: 9 Destinasi Wisata Seru Anti Gadget untuk Anak Gen Alpha, Cocok untuk Liburan!

7 Tanda Overstimulasi pada Anak Saat Liburan

Foto: hapus percikan

Berikut adalah beberapa tanda umum dari rangsangan berlebihan dan bagaimana hal itu mungkin muncul selama aktivitas liburan.

1. Menjadi lebih sibuk dan hiperaktif

Anak-anak mungkin menjadi sangat sibuk atau hiperaktif. Mereka mungkin berlarian di ruang tamu saat Ibu sedang mendekorasi pohon Natal atau melompat-lompat di atas furnitur saat pertemuan keluarga. Mereka bahkan bisa berjalan menuju altar sambil menunggu kebaktian gereja dimulai. Ini bukan perilaku yang buruk ya, Bu. Ini adalah cara mereka melepaskan kelebihan sensorik yang mereka rasakan.

2. Reaksi agresif

Stimulasi yang berlebihan dapat membuat anak bereaksi dengan cepat dan kuat. Memukul, menggigit, atau mendorong mungkin terjadi saat mereka merasa kewalahan. Misalnya, anak-anak mungkin mendorong ibu atau suami saat semua orang sedang berbelanja hadiah Natal. Hal ini terjadi karena keramaian, kebisingan, dan tampilan terang benderang di mal terlalu berlebihan.

3. Lebih sering terjadi ledakan

Jika indera mereka terlalu terstimulasi, emosi mereka bisa meledak. Nah, ledakan emosi ini bisa terjadi tanpa peringatan alias tiba-tiba. Misalnya menangis di tengah jamuan makan malam Natal, menolak memakai sepatu sebelum mengunjungi kerabat, atau menangis di gereja karena musiknya terlalu keras. Pemicu kecil akan terasa besar ketika sistem saraf mereka sudah kewalahan.

4. Menarik diri dari aktivitas

Beberapa anak merespons rangsangan berlebihan dengan menarik diri. Mereka mungkin menolak untuk ikut mendekorasi pohon Natal, bersembunyi saat foto keluarga, atau memilih diam di sudut yang sepi daripada ikut membuka hadiah.

5. Kembali pada kebiasaan dan perilaku lama

Stres saat liburan dapat menyebabkan anak kembali ke kebiasaan lama, terutama jika rutinitasnya terganggu. Anak-anak yang lebih kecil mungkin menjadi lebih lengket saat acara besar atau bersikeras untuk digendong ke mal. Ada pula yang mungkin kembali menghisap jari atau mengalami ngompol setelah beberapa hari disibukkan dengan berbagai acara, lho.

6. Kesulitan berkonsentrasi

Nah, bagi anak yang lebih besar biasanya mereka sulit berkonsentrasi. Mereka mungkin menjadi mudah tersinggung ketika membantu membungkus kado atau mengalami kesulitan untuk duduk diam selama kebaktian di gereja.

7. Keluhan fisik

Saat merasa kewalahan, anak mungkin akan merasakan sakit fisik pada tubuhnya. Sakit kepala atau sakit perut menjadi keluhan mereka. Gejala-gejala ini sering kali merupakan tanda bahwa indera mereka menerima rangsangan lebih dari yang dapat mereka tangani.

Cara Ampuh Mengatasi Overstimulasi pada Anak Saat Liburan

Foto: Hapus percikan

Yuk Bunda, coba cara mengatasi overstimulasi pada anak berikut ini.

1. Mempersiapkan diri dengan mengajak mereka ngobrol

Beri tahu mereka apa yang akan terjadi selama liburan. Misalnya, ke mana Anda akan pergi, siapa yang akan berada di sana, apa yang akan mereka lakukan, dan kapan Anda akan sampai di rumah. Bahkan, Bunda bisa memperlihatkan foto orang-orang yang akan ditemuinya. Ini membantu mengurangi kecemasan anak lho.

2. Bawalah barang kesukaan anak Anda

Jika di musim liburan kali ini Ibu dan keluarga berminat untuk mudik atau berlibur bersama keluarga besar, cobalah membawa beberapa barang yang familiar. Siapkan tas kecil berisi buku kesukaan anak Anda. Anda juga bisa membawa mainan yang biasa mereka mainkan. Bahkan membawa camilan favorit mereka pun membantu.

3. Biarkan anak mundur ke kamar atau tempat favoritnya

Nah, lain halnya jika pertemuan keluarga dilakukan di rumah Ibu. Saat anak merasa kewalahan karena banyak saudaranya yang datang, biarkan ia ‘menghindari’ sebentar ke kamarnya. Jangan marah dan menegur anak karena bersikap kasar.

Namun jangan sampai anak Anda justru bersembunyi dan terisolasi. Beri waktu 5-10 menit. Jika batas waktu telah terlewati, pergilah ke kamarnya dan ngobrol untuk mengetahui apakah rangsangan berlebihan pada anak sudah mereda.

4. Perhatikan tanda-tanda peringatan dini

Jika ia mulai berjalan mondar-mandir, menutup telinga, berbicara lebih keras, atau menjadi lekat, ini adalah tanda-tanda Bunda harus segera keluar bersamanya. Ajaklah anak untuk beristirahat agar indranya tidak terlalu kewalahan.

5. Kelola stresmu ya, Bu

Anak-anak merasakan suasana hati kita. Ketika kita tetap tenang dan stabil, mereka dapat menghadapi situasi baru dengan lebih baik. Menurut terapis Liz Kidney, orang tua yang tenang bisa membuat anak yang sebelumnya mengalami rangsangan berlebihan menjadi lebih tenang.

“Sistem saraf kita berkomunikasi satu sama lain, dan ketika anak merasa kita (orang tua) stabil, tubuhnya juga merasa lebih aman,” kata Ginjal seperti dikutip dari Parents.

BACA JUGA: 8 Rekomendasi Hotel Ramah Keluarga untuk Liburan Akhir Tahun: Dari Jakarta hingga Jogja

Ditulis oleh : Imelda Rahma

Sampul: Freepik


News
Berita Teknologi
Berita Olahraga
Sports news
sports
Motivation
football prediction
technology
Berita Technologi
Berita Terkini
Tempat Wisata
News Flash
Football
Gaming
Game News
Gamers
Jasa Artikel
Jasa Backlink
Agen234
Agen234
Agen234
Resep
Cek Ongkir Cargo
Download Film