Mungkin Mommies sering merasa bahwa anak tidak bisa melakukan segalanya tanpa ibunya. Padahal yang ia inginkan hanyalah seorang ibu yang membagi cintanya secara merata.
Selama 2,5 tahun pertama, seluruh perhatianku hanya terfokus pada Metta, putri pertamaku. Mulai dari membaca buku sebelum tidur, menemani bangun pagi, menghadapi air mata dan tawa, hingga memperhatikan setiap langkah kecil. Saya menjalani semuanya dengan sepenuh hati dan menjadikannya waktu yang berkualitas. Saat itu, saya percaya bahwa menjadi seorang ibu berarti hadir sepenuhnya, bermain bersama, mendampingi setiap proses tumbuh kembang anak, dan merayakan setiap pencapaian kecil.
Namun saat adik laki-lakinya lahir, cinta itu harus dibagikan. Saya harus membagi waktu, tenaga dan peran saya dalam satu hari yang terasa sangat singkat. Perubahan ini tidak mudah bagi Metta yang masih balita. Baginya, membagi perhatian terasa seperti kehilangan. Aku tahu, sehebat apapun aku berusaha, perpecahan itu tetap akan menyedihkan bagi Metta.
Suatu hari, saat adikku mulai MPASI, aku sibuk memegang sendok dengan satu tangan sambil memastikan buburnya tidak berhamburan. Di saat yang sama, Metta juga sedang makan dan berkata, “Mama, Metta mau disuapi juga.”
Aku tersenyum lelah. “Metta bisa makan sendiri kan? Metta bisa.”
BACA JUGA: 6 Perbedaan Pertengkaran Anak – Hanya Konflik Biasa VS Sibling Rivalry
Saya dari awal ingin anak belajar makan mandiri. Makanan bisa jadi berantakan, itu bagian dari proses. Kalau menolak makan, urusannya sederhana saja, makanan disimpan sampai anak siap makan. Namun hari itu, kesepakatan yang biasanya berjalan mulus menjadi awal dari sebuah tragedi kecil.
Metta menangis keras. Tangisannya menggema di seluruh rumah, membuat adiknya pun menangis, hingga neneknya keluar dari kamar dengan wajah khawatir.
“Kenapa Metta menangis seperti itu? Kemarilah, biar nenek yang menyuapimu!”, suara nenek meninggi, penuh rasa tidak sabar. Saya terdiam, lelah, bingung, dan merasa terpojok. Tangisan Metta semakin keras hingga ia muntah. Dalam keadaan bingung, aku tetap berkata, “Kalau sudah tenang, Metta yang membereskannya ya?” Hal ini tentu saja membuat sang ibu mertua semakin marah.
Sore itu berubah menjadi sore yang penuh dengan teriakan, tangisan, dan emosi yang menguras tenaga. Dalam hatiku, ada bisikan, “Sudahlah, bantu saja.. biar cepat selesai.” Namun saya berusaha untuk tetap konsisten, meski di kepala saya ada pertarungan antara konsistensi dan bisikan inkonsistensi. Bagi saya, mengendalikan nafas adalah kunci utama dalam menghadapi situasi ini.
Foto: Elina Fairytale/Pexels
Akhirnya Metta sudah tenang, aku menemaninya membersihkan ruang makan. Bukan dengan amarah, tapi dengan niat meminta pertanggungjawabannya.
Menjelang malam, adiknya tertidur. Ini adalah waktu yang spesial bagi kami berdua. Kami membaca buku bersama, lalu perlahan-lahan saya mulai membahas kejadian siang tadi.
“Tadi Mama marah karena Metta tidak mau makan sendirian. Mama tahu Metta bisa. Mama sedang membantu adiknya makan. Mama juga merasa kesal saat Nenek memarahi Mama. Mama ingin Metta memberitahunya dengan baik jika dia membutuhkan bantuan, agar kita bisa mencari jalan bersama.”
Metta terdiam, lalu tiba-tiba memelukku erat.
“Metta maaf ya, Ma… Metta hanya ingin diberi makan seperti adik kecil.”
Pelukan itu membuatku rapuh. Dalam pelukan panjang dan hangat itu, saling memaafkan mengalir tanpa kata. Malam itu menjadi malam menerima, memahami, dan hadir dengan sepenuh hati.
BACA JUGA: Bagi para ibu yang merasa kurang baik, artikel ini cocok untuk Anda
Saya menyadari bahwa menjadi orang tua bukan berarti selalu benar atau menerapkan disiplin tanpa empati. Tapi ini tentang membangun hubungan yang aman, di mana seorang anak bisa menangis tanpa rasa takut, dan di mana seorang ibu bisa menjadi rentan tanpa merasa gagal.
Melalui komunitas Keluarga Kami, saya belajar menjadi orang tua yang belajar sepanjang hayat, kembali ke jati diri yang mendasar, berhubungan dengan Tuhan, alam, dan orang-orang di sekitar saya. Memelihara hubungan reflektif dalam keluarga, komunikasi efektif, menyelesaikan konflik dengan prinsip PEACE*, sehingga disiplin positif dan pembelajaran efektif dapat dibangun dalam ruang yang aman.
Dalam mengasuh anak, saya berpegang pada Prinsip CINTA*. C, temukan jalan. Saya, ingatlah untuk bermimpi tinggi. N, ambillah tanpa drama. T, tidak takut melakukan kesalahan dan A, senang bermain bersama. Sebuah cinta yang tak sempurna, namun terus bertumbuh. Cinta yang terkadang terputus-putus, namun tak pernah hilang.
Mencintai dengan lebih baik adalah perjalanan seumur hidup. Saya ingin memutus rantai emosi masa lalu dan hadir dengan sepenuh hati dan seutuhnya, menciptakan rasa aman agar kedua anak saya tumbuh sesuai keunikan dan potensinya.
Dan barangkali, di situlah proses mencintai dengan lebih baik sebenarnya dimulai, ketika kita mau terus belajar, bertumbuh, dan berjalan bersama. Jika Ibu juga ikut dalam perjalanan ini, Keluarga Kami selalu membuka ruang untuk belajar mengasuh anak dengan lebih sadar dan bermakna.
*Prinsip DAMAI dan prinsip CINTA merupakan teknik parenting yang diajarkan oleh Keluarga Kita, sebuah organisasi pendidikan keluarga berbasis penelitian.
BACA JUGA: 17 Ritual Aktivitas Keluarga dan Manfaatnya bagi Tumbuh Kembang Anak
Menutupi: Ketut Subiyanto/Pexels
News
Berita Teknologi
Berita Olahraga
Sports news
sports
Motivation
football prediction
technology
Berita Technologi
Berita Terkini
Tempat Wisata
News Flash
Football
Gaming
Game News
Gamers
Jasa Artikel
Jasa Backlink
Agen234
Agen234
Agen234
Resep
Cek Ongkir Cargo
Download Film