Mommies Daily – Ibu Pekerja yang Menginspirasi: Cyndi Simanjuntak. Perawat Sekolah di Jakarta.


Sebagai seorang ibu bekerja sekaligus perawat sekolah di Jakarta, inilah kisah Cyndi Simanjuntak tentang keseimbangan peran sebagai ibu dan pekerja.

Menjadi ibu yang bekerja seringkali berarti hidup di dua dunia yang membutuhkan hati dan tenaga. Di satu sisi ada panggilan profesional, di sisi lain ada anak-anak yang menunggu di rumah. Oke, oke, kami sangat memahaminya. Kebanyakan Mommies yang juga bekerja sebagai ibu, mungkin pernah berada pada titik lelah, merasa waktu dibagikan tanpa rasa adil, atau diam-diam bertanya apakah semuanya sudah cukup.

Cyndi Simanjuntak sangat memahami dinamika tersebut. Sebagai ibu bekerja, yang juga bekerja sebagai perawat sekolah di Sekolah Perancis Jakartasetiap hari beliau merawat, menenangkan dan mendidik anak-anak di lingkungan sekolah. Sekaligus, ia juga seorang ibu yang ingin hadir sepenuhnya untuk keluarganya, terutama anak-anaknya.

Berikut kisah Cindy, ibu dari seorang putri bernama Mika Napitupulu (10 tahun), bagaimana dia menjalani perannya sebagai perawat sekolah, dan juga seorang ibu.

T: Sebagai perawat sekolah, apa peran dan rutinitas harian Anda?

A: Sebagai perawat sekolah, peran saya tidak hanya memberikan pertolongan pertama ketika siswa sakit atau terluka. Saya juga melakukan observasi kesehatan, memberikan edukasi sederhana tentang pola hidup sehat, dan berkoordinasi dengan guru dan orang tua bila diperlukan. Setiap hari berbeda, karena setiap anak mempunyai kebutuhan yang unik.

Q: Apa yang membuat Anda memilih profesi ini, khususnya sebagai seorang ibu?

A: Saya mempunyai ketertarikan pada sektor kesehatan dan jasa. Profesi ini memberi saya kesempatan untuk memberikan kontribusi nyata kepada anak-anak, dengan tetap menjalankan peran saya dalam keluarga. Bagi saya, bekerja bukan hanya soal karir, tapi juga tentang makna.

T: Apakah ada tantangan terbesar saat menangani anak-anak di sekolah?

A: Ketika saya harus menghadapi berbagai karakter anak yang respon emosinya berbeda-beda ya, apalagi saat mereka merasa takut atau cemas. Jujur saja, diperlukan pendekatan yang tenang, sabar dan komunikatif agar anak merasa aman. Dari situlah saya belajar bahwa ketenangan adalah kekuatan.

T: Bagaimana pengaruh profesi ini terhadap pengasuhan anak di rumah?

A: Saya menjadi lebih peka terhadap tanda-tanda kesehatan anak-anak. Jadi saya lebih disiplin menerapkan pola hidup sehat di rumah. Saya juga belajar mengelola emosi dengan lebih baik dan membangun komunikasi yang mendukung. Banyak hal yang saya praktikkan di sekolah juga relevan untuk keluarga. Misalnya di sekolah saya selalu mengingatkan anak-anak untuk mencuci tangan dengan benar, atau tentang etika batuk. Di rumah, hal yang sama saya terapkan sebagai kebiasaan sehari-hari bersama Mika, anak saya.

Baca juga: Single Mom yang Menginspirasi: Rikha Rosalina. Awalnya hancur, akhirnya berdiri tegak

T: Apakah pengalaman Anda sebagai seorang ibu membantu Anda dalam menekuni profesi ini?

A: Jelas sangat membantu. Sebagai seorang ibu, itu juga merupakan hal yang wajar menangani anak-anak di rumah, memudahkan saya memahami perasaan anak-anak ketika sakit atau tidak nyaman. Saya selalu berusaha memposisikan diri sebagai orang tua tapi juga sebagai tenaga kesehatan, maka pendekatan itulah yang saya berikan semoga terasa lebih hangat namun tetap profesional.

Q: Apa tantangan terbesar dalam membagi waktu dan tenaga antara pekerjaan dan keluarga?

J: Menjaga keseimbangan adalah tantangan utama. Saya berusaha mengatasinya dengan manajemen waktu yang baik, menetapkan prioritas, dan menjaga waktu berkualitas bersama keluarga, terutama anak-anak. Bagiku, ini bukan hanya soal berapa lama kita bersama, tapi seberapa hadir kita di momen itu.

Q: Pernahkah Anda mengalami dilema ketika pekerjaan dan urusan anak datang bersamaan?

J: Tentu saja saya punya. Saat itu saya sedang bekerja dan tentunya dituntut untuk profesional, sedangkan di rumah saya juga membutuhkan perhatian. Dalam kondisi seperti itu, saya pasti berkomunikasi dengan keluarga lain di rumah. Sejujurnya, dukungan keluarga adalah kunci agar semuanya berjalan baik.

T: Adakah tips untuk menjaga keseimbangan emosi dan kesehatan mental?

A: Saya berusaha mengatur waktu istirahat yang cukup. Kemudian luangkan juga waktu untuk melakukan aktivitas positif. Sebisa mungkin berkolaborasi juga dengan anggota keluarga lainnya untuk membangun lingkungan yang mendukung. Terkadang saya juga melakukan refleksi pada diri saya sendiri, sehingga saya bisa mengelola stres. Penting kan, agar emosi tetap stabil. Kita tidak bisa menjaga orang lain jika kita mengabaikan diri kita sendiri. Bukan begitu?

Baca juga: Rudy Ferdianrus: Dunia Akan Terus Berubah, Namun Karakter Kuat Akan Selalu Menjadi Fondasinya

Q: Dukungan apa yang paling berarti bagi Anda sebagai ibu bekerja?

Dukungan keluarga adalah hal yang paling penting. Selain itu, lingkungan kerja yang saling menghormati dan kolaboratif serta jujur ​​sangat membantu saya menjalankan kedua peran tersebut dengan lebih mudah.

Q: Apakah ada pesan untuk ibu bekerja khususnya di bidang kesehatan?

A: Peran kita sangat penting lho. Kita lho, tidak hanya berkarya, tapi juga berdampak pada banyak orang. Berusahalah untuk selalu hidup dengan integritas, jaga kesehatan, dan yakinlah bahwa setiap usaha yang kita lakukan mempunyai nilai. Banggalah dengan peran yang Anda mainkan dan terus berkembang.

Mommies, itulah kisah Cyndi, seorang ibu pekerja yang juga bekerja sebagai perawat sekolah. Sama seperti ibu bekerja lainnya, segala sesuatunya tidak selalu mudah, tidak selalu mudah, namun selalu ada alasan untuk move on lagi esok hari. Menjadi ibu bekerja bukan berarti tampil sempurna di dua tempat sekaligus, tapi juga terus hadir dengan sepenuh hati, di mana pun kita berada.


News
Berita Teknologi
Berita Olahraga
Sports news
sports
Motivation
football prediction
technology
Berita Technologi
Berita Terkini
Tempat Wisata
News Flash
Football
Gaming
Game News
Gamers
Jasa Artikel
Jasa Backlink
Agen234
Agen234
Agen234
Resep
Cek Ongkir Cargo
Download Film