Psikolog menjelaskan mengapa anak-anak mengalami kesulitan fokus dan bagaimana latihan sensorik-motorik sederhana dapat membantu meningkatkan konsentrasi mereka.
Menjaga anak tetap fokus saat belajar seringkali menjadi sebuah tantangan. Mereka mudah gelisah atau cepat kehilangan minat, bukan karena malas, namun karena fokusnya sangat dipengaruhi oleh kesiapan tubuh dan perkembangan sensorik-motoriknya. Yuk simak penjelasannya!
BACA JUGA: 10 Cara Asyik Mengajarkan Tata Krama pada Balita, Dijamin Anak Senang!
Alasan Mengapa Anak Sulit Fokus
Bunda dan Ayah mungkin sering bertanya-tanya kenapa anak sulit fokus saat belajar? Sangat mudah untuk terganggu di sana-sini. Akibatnya, perilaku ini terkesan malas atau tidak tertarik. Meski tidak selalu, lho. Demikian penjelasan menurut psikolog anak dan keluarga.
“Fokus tidak bisa dipaksakan. Sebelum anak bisa duduk diam dan memperhatikan, tubuhnya harus siap terlebih dahulu. Jika sistem inderanya belum matang, misalnya masih mudah terganggu oleh suara atau cahaya, maka anak akan sulit berkonsentrasi,” jelas Saskhya Aulia Prima, M.Psi., Psikolog.
Menurut penjelasannya, kemampuan fokus sangat bergantung pada kesiapan tubuh, terutama pada perkembangan sensorik dan motorik anak. Jadi, kedua faktor tersebut harus dimatangkan terlebih dahulu agar anak siap fokus pada aktivitas yang ada di hadapannya. Mengapa ini penting? Sebab, kematangan sensorik dan motorik seorang anak merupakan hal mendasar bagi prestasi akademik yang baik.
Bukan tanpa dasar, ada penelitian yang membahas hal tersebut. Pada tahun 2024, penelitian bertajuk “Hubungan Keterampilan Motorik dan Prestasi Akademik pada Anak Usia Sekolah dan Remaja: Sebuah Tinjauan Sistematis” membahas tentang bagaimana hubungan keterampilan motorik mempengaruhi prestasi akademik. Hasilnya positif. Banyak permainan fisik yang melibatkan gerakan tubuh ternyata dapat membantu anak mengasah kemampuan dasar matematika, seperti berhitung, memahami jarak, mengelompokkan benda, dan lain-lain.
Kesimpulannya, anak yang kemampuan motoriknya lebih matang umumnya menunjukkan kemampuan berpikir dan prestasi akademik yang lebih baik. Namun bagaimana caranya?
Foto: Freepik
Cara Melatih Fokus Anak dengan Aktivitas Sensorik dan Motorik Halus
Takut jadi rumit? Tenang saja, Ayah dan Ibu. Kemampuan fokus sebenarnya bisa dilatih melalui aktivitas seru, yakni bermain!
Menurut temuan penelitian bertajuk “Optimalisasi Koordinasi Motorik Halus, Perhatian Selektif dan Waktu Reaksi pada Anak” tahun 2023, kegiatan seni rupa dengan latihan motorik dapat meningkatkan konsentrasi dan kemampuan menjaga fokus anak.
Anak-anak belajar dari bermain. Permainan yang melibatkan sentuhan dan rangkaian aktivitas bisa menjadi latihan fokus si kecil. Misalnya melalui permainan memasak dengan bahan plastisin warna-warni.
Tak sekadar bermain, permainan seperti ini mengajarkan anak tentang mengikuti tahapan, menyusun bahan, dan membayangkan hasilnya. Tekstur lembut dan warna khas plastisin mampu merangsang indra peraba dan penglihatan anak. Juga memperkuat fokus mereka.
Berikut ide yang bisa dilakukan dengan plastisin:
- Menggulung dan menekan adonan membantu memperkuat genggaman dan meningkatkan kontrol gerakan tangan.
- Membentuk huruf atau pola dari adonan mendukung koordinasi tangan-mata sekaligus melatih gerakan yang lebih presisi.
- Memotong atau mencetak bentuk mempertajam fokus anak dan membuatnya lebih presisi.
- Menata warna atau pola memerlukan kesabaran dan mendorong anak untuk konsisten.
- Perpaduan warna merangsang kreativitas dan membuka ruang imajinasi mereka berkembang.
Mainan Lilin Membantu Anak Belajar Fokus
Sebagai mainan lilin yang telah lama dipercaya aman dan ramah untuk anak-anak, Play-Doh menawarkan pengalaman memasak dan memasak yang seru. perangkat bermain bertema dapur.
Melalui aktivitas sederhana seperti membentuk, menggulung, dan mencipta, sebenarnya anak belajar banyak hal: bagaimana tetap fokus, memahami urutan, dan membangun kesabaran. Dengan Play-Doh, momen bermain tidak hanya penuh tawa, tetapi juga menjadi bagian penting dalam proses tumbuh kembang—semuanya dimulai dari “dapur kecil” mereka sendiri.
BACA JUGA: 10 Kecemasan Balita yang Wajib Dipahami Orang Tua, Agar Tak Ada Drama
Ditulis oleh : Retno Raminne Nurhaliza Pitoyo
Sampul: Freepik
Agen Togel Terpercaya
Bandar Togel
Sabung Ayam Online
Berita Terkini
Artikel Terbaru
Berita Terbaru
Penerbangan
Berita Politik
Berita Politik
Software
Software Download
Download Aplikasi
Berita Terkini
News
Jasa PBN
Jasa Artikel