IDAI melayangkan surat terbuka kepada BGN terkait pemberian susu formula dalam program MBG. Demikian isi highlight, klarifikasi BGN, dan alasan isu ini ramai diperbincangkan.
Belakangan ini, program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali menjadi sorotan setelah Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengirimkan surat terbuka kepada Badan Gizi Nasional (BGN). Hal ini tentunya juga menjadi perbincangan banyak Mommies di luar sana.
Yang menjadi perhatian adalah distribusi susu formula dalam program tersebut. IDAI menilai peredaran susu formula secara massal tanpa indikasi medis berpotensi mempengaruhi keberhasilan pemberian ASI di Indonesia.
Permasalahan ini pun langsung dibicarakan oleh para orang tua karena menyangkut topik yang sangat sensitif, yaitu:
- TETAPI,
- susu formula,
- dan hak anak untuk mendapatkan gizi terbaik.
Nah Bunda biar gak bingung, berikut rangkuman isi surat terbuka IDAI sekaligus klarifikasi dari BGN.
BACA JUGA: 30 Sekolah di Indonesia yang Punya Kantin Sehat atau Katering Sehat Sendiri, Tidak Wajibkan MBG
Mengapa IDAI mengirimkan surat terbuka ke BGN?
Surat terbuka tersebut disampaikan Satgas UKK Gizi ASI dan Penyakit Metabolik IDAI kepada Kepala BGN Dadan Hindayana dan pimpinan BGN. Selain di media sosial, IDAI juga mengunggah detail resmi surat tersebut di situs resminya.
Dalam suratnya, IDAI menyebut jutaan bayi Indonesia belum bisa menyuarakan haknya sendiri. Oleh karena itu, dokter anak merasa perlu untuk bersuara demi kepentingan terbaik anak.
Fokus utama yang disoroti adalah pendistribusian susu formula dalam program MBG secara massal tanpa pemeriksaan dokter atau indikasi medis yang jelas.
Menurut IDAI, kebijakannya seperti ini berisiko membuat ibu lebih cepat berhenti menyusui. Namun, ketika menyusui berhenti, tidak selalu mudah untuk memulainya kembali.
IDAI menegaskan, ASI tidak bisa tergantikan
Foto: Luar biasa
Salah satu poin utama dalam surat tersebut adalah penegasan bahwa ASI tetap menjadi standar emas gizi bayi dan anak usia dini.
IDAI menjelaskan hal itu ASI bukan sekadar makanan, namun mengandung ratusan hingga ribuan komponen bioaktif yang penting bagi tumbuh kembang anak. Mulai dari antibodi, bakteri baik untuk usus, hingga sinyal untuk pertumbuhan otak.
Oleh karena itu, meski teknologi susu formula terus berkembang, IDAI menilai belum ada produk yang benar-benar mampu menggantikan seluruh manfaat biologis ASI.
“Anak-anak kita butuh ASI, jangan sampai kebijakan kita hari ini membuat mereka kehilangan sesuatu yang penting,” tulis IDAI dalam surat terbukanya.
Mengapa IDAI sangat ketat terhadap produk pengganti ASI?
Sebenarnya kekhawatiran IDAI terhadap peredaran susu formula tidak muncul secara tiba-tiba.
Dalam berbagai rekomendasinya, IDAI cukup aktif mendorong perlindungan praktik menyusui dan pembatasan pemasaran produk pengganti ASI.
IDAI juga mengacu pada Kode Internasional Pemasaran Pengganti ASI atau kode WHO terkait pemasaran produk pengganti ASI.
Dalam penjelasan resminya, kata IDAI Pengawasan terhadap produk pengganti ASI tidak hanya mencakup susu formula untuk bayi usia 0-6 bulan saja, namun juga produk susu formula lainnya untuk anak di bawah usia 2 tahun yang dipasarkan sebagai pelengkap atau pengganti ASI.
Oleh karena itu, IDAI menilai pendistribusian produk susu formula perlu dilakukan secara hati-hati dan tetap berdasarkan:
- indikasi medis,
- rekomendasi profesional kesehatan,
- serta mempertimbangkan perlindungan praktik menyusui dan keberhasilan pemberian ASI eksklusif.
Bagi IDAI, persoalan ini bukan sekedar soal pilihan susu, tapi juga bagian dari upaya menjaga hak anak untuk mendapatkan nutrisi terbaik sejak awal kehidupan.
Soroti Aturan tentang Susu Formula
Dalam suratnya, IDAI juga menyebut pemberian susu formula sebenarnya sudah diatur dalam peraturan nasional.
Mereka mengacu pada:
- Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023,
- Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2024,
- serta kode WHO tentang pemasaran produk pengganti ASI.
Dalam peraturan tersebut disebutkan susu formula sebaiknya hanya diberikan berdasarkan anjuran dokter dan indikasi medis tertentu.
Untuk itu, IDAI meminta agar pendistribusian susu formula pada program pemerintah tidak dilakukan secara massal tanpa adanya evaluasi dari petugas kesehatan.
Rekomendasi apa saja yang diberikan IDAI?
IDAI pun memberikan beberapa rekomendasi kepada BGN dalam surat yang mereka kirimkan.
1. Harmonisasi kebijakan dengan Kementerian Kesehatan
IDAI meminta agar kebijakan BGN sejalan dengan program perlindungan ASI yang saat ini sedang dilaksanakan Kementerian Kesehatan.
2. Distribusi Susu Formula Harus Sangat Dibatasi
Menurut IDAI, susu formula hanya boleh diberikan untuk kondisi medis khusus, misalnya:
- kelainan metabolisme bawaan,
- atau indikasi medis mutlak lainnya.
Sebaiknya diberikan melalui fasilitas pelayanan kesehatan.
3. Fokus pada MPASI Lokal dan Protein Hewani
IDAI juga meminta agar anggaran susu formula dialihkan untuk memperkuat program:
- MPASI berbahan pangan lokal,
- protein hewani,
- dan intervensi nutrisi berbasis bukti ilmiah.
4. Evaluasi Petunjuk Teknis Program Gizi
IDAI meminta agar Pedoman Teknis Intervensi Gizi Nasional BGN ditinjau kembali agar tetap sejalan dengan peraturan kesehatan nasional dan kode WHO tentang pemasaran produk pengganti ASI.
Klarifikasi BGN: Tidak Ada Susu Formula Bayi di MBG

Foto: Luar biasa
Menanggapi surat terbuka IDAI, Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana menegaskan, program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak membuka pilihan pemberian susu formula untuk bayi usia 0–6 bulan.
Menurut Dadan, BGN tetap menempatkan ASI sebagai nutrisi utama bayi. “BGN tidak membuka pilihan susu formula bayi karena ingin mengutamakan ASI,” jelas Dadan pada Kamis (21/5), dikutip dari Kompas.com.
Dadan juga meminta masyarakat untuk memperhatikan perbedaan antara:
- susu formula sayang,
- rumus lanjutan,
- dan rumus pertumbuhan.
Sebab, yang dimaksud dengan program MBG bukanlah susu formula bayi tahap awal untuk usia 0–6 bulan, melainkan susu formula lanjutan dan susu formula pertumbuhan yang diberikan berdasarkan kebutuhan tertentu.
BGN kemudian menjelaskan pembagian kategori susu formula berdasarkan usia anak:
1. Formula Bayi (Tingkat 1)
Susu formula ini ditujukan untuk bayi usia 0–6 bulan dan diformulasikan menyerupai ASI sebagai sumber nutrisi utama.
Namun BGN menegaskan, kategori tersebut tidak masuk dalam pilihan program MBG karena pemerintah masih ingin mengutamakan ASI eksklusif.
2. Rumus Lanjutan (Tingkat 2)
Jenis ini ditujukan untuk bayi usia 6–12 bulan yang mulai memasuki fase MPASI.
Menurut penjelasan BGN, formula lanjutannya berfungsi sebagai pelengkap dengan konten tambahan seperti:
- protein,
- kalsium,
- dan besi.
3. Formula Pertumbuhan (Level 3 dan seterusnya)
Susu formula pertumbuhan ditujukan untuk balita usia 1–3 tahun atau lebih sebagai penunjang nutrisi pada masa pertumbuhan aktif anak.
BGN juga menegaskan, pemberian formula lanjutan atau formula pertumbuhan tidak dilakukan secara massal tanpa adanya evaluasi. Dikatakan, pemberiannya harus berdasarkan rekomendasi ahli gizi, bidan, puskesmas, atau hasil diagnosa kondisi anak di lapangan.
Menurut Dadan, pendekatan ini dilakukan khususnya pada kelompok ibu hamil, ibu menyusui, dan balita yang memerlukan intervensi gizi tertentu sesuai kondisinya masing-masing.
Selain itu, BGN juga menegaskan bahwa tujuan program tetap fokus pada perbaikan gizi, penurunan stunting, dan pemenuhan kebutuhan gizi anak Indonesia.
Oleh karena itu, menurut BGN, penggunaan susu formula pada kondisi tertentu diposisikan sebagai intervensi tambahan berdasarkan kebutuhan, bukan pengganti ASI pada umumnya.
Mengapa masalah ini begitu sensitif bagi orang tua?
Topik ASI dan susu formula selalu menjadi topik sensitif karena pengalaman setiap ibu berbeda-beda.
Ada ibu yang berhasil memberikan ASI eksklusif, namun ada juga yang menghadapi tantangan seperti:
- tarik ASI,
- masalah kait,
- kondisi kesehatan tertentu,
- bayi prematur,
- untuk stres mental saat menyusui.
Oleh karena itu, banyak orang tua yang berharap diskusi seperti ini terus dilakukan dengan pendekatan yang suportif dan berbasis edukasi, bukan saling menyalahkan.
Yang Terpenting, Anak Tetap Mendapatkan Nutrisi Terbaik
Di tengah perdebatan mengenai ASI dan susu formula, satu hal yang sebenarnya disepakati semua pihak adalah pentingnya pemenuhan gizi anak.
IDAI dan BGN sama-sama menyatakan mendukung peningkatan status gizi nasional dan penurunan angka pengerdilan di Indonesia.
Oleh karena itu, orang tua tetap perlu mendapatkan:
- mengakses informasi yang benar,
- dukungan petugas kesehatan,
- dan bantuan yang realistis sesuai dengan kondisi masing-masing keluarga.
Karena pada akhirnya setiap anak berhak mendapatkan nutrisi terbaik untuk tumbuh kembangnya. Setuju, Bu?
BACA JUGA: Keracunan MBG: Ribuan Anak Jadi Korban, Ratusan Triliun Anggaran Pendidikan Tersedot
Sampul: Pexels
PakarPBN
A Private Blog Network (PBN) is a collection of websites that are controlled by a single individual or organization and used primarily to build backlinks to a “money site” in order to influence its ranking in search engines such as Google. The core idea behind a PBN is based on the importance of backlinks in Google’s ranking algorithm. Since Google views backlinks as signals of authority and trust, some website owners attempt to artificially create these signals through a controlled network of sites.
In a typical PBN setup, the owner acquires expired or aged domains that already have existing authority, backlinks, and history. These domains are rebuilt with new content and hosted separately, often using different IP addresses, hosting providers, themes, and ownership details to make them appear unrelated. Within the content published on these sites, links are strategically placed that point to the main website the owner wants to rank higher. By doing this, the owner attempts to pass link equity (also known as “link juice”) from the PBN sites to the target website.
The purpose of a PBN is to give the impression that the target website is naturally earning links from multiple independent sources. If done effectively, this can temporarily improve keyword rankings, increase organic visibility, and drive more traffic from search results.