Kisah reflektif tentang momen pecahan kaca mengubah cara seorang ibu mencintai anaknya, dari tuntutan kesempurnaan menjadi koneksi dan empati.
“Praaaaang!!!!!”
Pukul 7 malam, suara yang terdengar seperti alarm bencana di telinga saya. Gelas kristal berisi susu di tangan mungil anak saya terlepas dari genggamannya. Pecahan kaca dan susu berserakan di lantai yang baru saja saya pel beberapa menit yang lalu.
Mataku melotot, suaraku meninggi, dan tanduk seperti keluar dari kepalaku. “Apakah ini mungkin? Lebih hati-hati ya?! Kamu baru mengepelnya, kamu malah mengotorinya!” Desahan frustasiku yang super panjang membuat bahu kecilnya terkulai lesu.
Saya adalah ibu yang ‘baik-baik saja dan selalu ingin menjadi sempurna’. Mulai dari rumahnya yang harus rapi, anak yang harus patuh, dan jadwal yang harus tepat. Apakah saya mencintai anak saya? Ya, tentu saja. Namun cinta tersebut rupanya dibalut erat dengan standarisasi dan ekspektasi yang tinggi. Sejujurnya, hal-hal seperti ini membuatku sangat lelah. Aku hanya fokus pada lantai yang kotor akibat tumpahan susu dan pecahan kaca yang berserakan di lantai, bukan pada tangan kecilnya yang mungkin gemetar karena shock.
Malam itu, setelah drama pecahan kaca (untuk kesekian kalinya), aku melihatnya tertidur sambil memeluk boneka kesayangannya. Ada bekas air mata kering di pipinya dan hatiku tercengang. Inikah cinta yang ingin kuberikan pada seorang anak, titipan dan kepercayaan Sang Pencipta Yang Maha Esa? Cinta tanpa syarat seperti ini? Sejak itu saya teringat saat pertama kali bergabung dengan Rangkul (Relawan Keluarga Kami), “Kami tidak sendirian”. Saya skeptis. Apa yang bisa diajarkan orang lain kepada saya tentang anak saya?
Namun saat itu saya lebih merasa putus asa daripada skeptis. Akhirnya saya putuskan untuk membaca modul dan mengikuti pelatihan online serta berdiskusi dengan sesama teman rangkul. Saya mengikuti sesi Embrace dan mempelajari istilah-istilah baru dalam prinsip cinta: Carilah jalan, Ingatlah untuk bermimpi besar, Terima tanpa drama, Tidak takut melakukan kesalahan, dan Selamat bermain bersama. Sulit? Luar biasa.
Berkali-kali saya ‘kambuh’. Saat mainan-mainan itu berserakan di lantai dengan sangat berantakan, mulutku terasa gatal seolah siap berteriak. Ketika anak menolak, saya sangat ingin memaksanya. Tapi saya terus mencoba. Aku menggigit lidahku, menarik napas, dan mencoba kalimat baru: “Bu, perhatikan, ibu kesal ya?” alih-alih berkata, “Jangan marah!”
Foto: Freepik
Lalu, tibalah momen sederhana itu. Sepulang sekolah, anak saya membanting tasnya dan berkata, “Saya benci sekolah!” sambil berteriak. Diriku yang dulu pasti akan langsung menceramahinya tentang rasa syukur. Kali ini aku berbisik sambil mengingatkan diriku sendiri: koneksi sebelum koreksi. Saya duduk di sebelahnya. Namun, tetaplah diam. Lama sekali. Lalu bertanya “Hmmmm, coba tebak, sepertinya ada yang membuatmu marah di sekolah ya?”
Dia menatapku dengan curiga. Tiba-tiba air mata membasahi pipinya dan dia bercerita tentang teman-temannya yang terus mengolok-oloknya, padahal gurunya tidak bisa melihatnya. Saya tidak menawarkan solusi. Saya juga tidak menyalahkannya sama sekali. Saya hanya mendengarkan, dan di akhir cerita, saya memeluknya erat. “Terima kasih, Kak, sudah memberitahu Ibu,” kataku.
Malam itu, tidak ada yang berubah di dunia. Tapi segalanya berubah di rumah kami.
Dan pagi ini kaca kembali pecah. Kali ini gelas jus. Wajahnya membeku, menatapku, seperti sedang menunggu ‘badai’ datang, dan tanduk di kepalaku langsung keluar. Aku berjalan perlahan ke arahnya, meringkuk di genangan lantai yang lengket, memeluknya dan menatap wajahnya. “Kamu baik-baik saja kan? Apa ada yang terkena pecahan kaca?” Dia menggelengkan kepalanya perlahan, matanya masih terlihat kaget. “Ayo kita bersihkan bersama-sama. Kakak ambil kain lap, sedangkan Ibu ambil sapu ya?”
Rumahku mungkin tidak serapi dulu. Tapi rumahku jauh lebih hangat sekarang. Saya tidak menulis ini karena saya sudah menjadi ibu yang sempurna. Jauh dari itu. Saya menulis ini karena saya berhenti berusaha menjadi sempurna. Saya memilih untuk menjadi ‘utuh’. Belajar mencintai dengan lebih baik memerlukan ilmu, memerlukan latihan, dan yang terpenting memerlukan komunitas agar kita tidak merasa sendirian. Bagi saya, Embrace adalah tempatnya. Jika kita sering merasa lelah di penghujung hari, merasa gagal karena rumah berantakan atau anak sulit diatur, mungkin sudah saatnya Anda tidak hanya merangkul anak Anda tetapi juga MEMELANGKAH bantuan.
*EMPLOY (Relawan Keluarga Kami)
BACA JUGA: Bisa Trauma Anak, Ketahui 9 Dampak Memarahi Anak!
Sampul: Freepik
News
Berita Teknologi
Berita Olahraga
Sports news
sports
Motivation
football prediction
technology
Berita Technologi
Berita Terkini
Tempat Wisata
News Flash
Football
Gaming
Game News
Gamers
Jasa Artikel
Jasa Backlink
Agen234
Agen234
Agen234
Resep
Cek Ongkir Cargo
Download Film