Mommies Daily – Saya pikir pernikahan saya baik-baik saja, sampai pandemi membuka segalanya


Kupikir pernikahanku baik-baik saja, tapi enggan membicarakannya satu sama lain. Ini adalah kisah nyata tentang peningkatan komunikasi untuk hubungan yang lebih jujur ​​dan harmonis.

“Pernikahan yang sukses adalah seringnya jatuh cinta dan selalu pada orang yang sama.”
(Mignon McLaughlin)

Jika mengingat masa-masa awal pandemi, rasanya seperti membuka album foto yang penuh emosi campur aduk. Saat itu, dunia seakan berhenti sejenak. Semua orang diminta untuk tinggal di rumah, termasuk keluarga kami. Awalnya kukira masa ini akan menjadi fase yang menyenangkan, lebih banyak waktu bersama suami dan anak, lebih banyak momen kebersamaan yang sebelumnya sulit didapat karena kesibukan kita masing-masing. Namun ternyata, justru di situlah kita mulai melihat sisi hubungan yang selama ini tersembunyi karena rutinitas.

Hubungan kita sering kali hanya terselamatkan oleh waktu dan kesibukan. Kami bisa menjauh sebentar sementara suamiku berangkat kerja dan aku menenangkan diri di rumah. Namun ternyata keadaannya ibarat menambal tembok yang retak, namun tidak pernah berusaha melihat sumber masalahnya.

“Mala!” Suara panciku yang dilempar ke wastafel dapur menambah ketegangan pagi itu. Ini mungkin puncak dari semua perasaan yang selama ini terpendam, lalu meledak menjadi amarah. Pandemi Covid-19 menjadi titik balik perjalanan rumah tangga kami. Sebuah cerita yang sebelumnya saya anggap kuat. Kami berhasil melewati badai dan tetap berdiri bersama selama tujuh tahun terakhir. Ternyata anggapan tersebut salah. Masih ada celah di sana-sini yang baru saya sadari saat pandemi.

Awalnya, saya cukup yakin bisa menghadapi pandemi ini tanpa drama. Kondisi “di rumah” bagi saya sebagai ibu rumah tangga tidak ada bedanya dengan hari-hari sebelumnya. Kehadiran suami dan anak sungguh membuatku bahagia. Kita bisa menghabiskan waktu lebih banyak dari biasanya dan tidak sibuk dengan urusan lain di luar rumah.

BACA JUGA: Pengabaian Emosional dalam Pernikahan: Ketika Kebutuhan Emosional Tak Terpenuhi

Semakin Dekat, Semakin Rumit

Seiring berjalannya waktu, kedekatan satu sama lain semakin mengungkap wujud sebenarnya dari hubungan kami yang belum matang. Komunikasi satu sama lain tidak sebaik kelihatannya dan seringkali keputusan yang diambil lebih dipengaruhi oleh ketidaknyamanan. Tak heran, hal itu akhirnya berujung pada luapan emosi yang melukai hati masing-masing.

Kejadian ini membuat kami terbangun. Ternyata tidak ada yang berubah. Dalam setiap permasalahan, kami berdua tidak pernah berdiskusi lebih jauh hingga mencapai kesepakatan. Ibarat menambal tembok yang retak, namun tidak pernah berusaha melihat sumber masalahnya. Keretakan dalam pernikahan saya semakin besar, pandemilah yang akhirnya meruntuhkan tembok tersebut.

Saya kemudian mulai mengemasi barang-barang saya dengan tujuan kembali ke desa saya untuk berpisah sementara. Sekali lagi, pilihan andalan saya adalah solusi instan karena saya tidak mampu berkomunikasi.

Foto: Timur Weber/Pexels

Diskusi Menemukan Solusi

Sang suami yang melihat keadaan ini kemudian mengambil langkah baru yang mengubah segalanya. Ia berani memulai pembicaraan dan berusaha berdiskusi serta mencari solusi. Aku yang merasa takjub kemudian mulai mengungkapkan perasaan, harapan dan keinginanku melalui ilmu saya-pesan yang dipelajari di Rangkul (Relawan Keluarga Kami).

Masa lalu saya-pesanSaya belajar menyampaikan perasaan tanpa menyalahkan. Sebelumnya, saya sering menggunakan kalimat seperti “Kamu tidak pernah mengerti aku” atau “Kamu selalu sibuk dengan dirimu sendiri”. Tanpa disadari, kalimat seperti itu membuat sang suami merasa diserang dan akhirnya memilih membela atau menyerang balik.

Dengan saya-pesanSaya belajar mengubah cara saya berbicara menjadi lebih jujur ​​dan lebih bertanggung jawab terhadap perasaan saya sendiri. Misalnya, saya mulai berkata, “Saya merasa terbebani dan sedih ketika harus mengurus semuanya sendiri. Saya ingin kita bisa membagi peran dengan lebih jelas.”

Ternyata perubahan cara saya menyampaikan perasaan ini berdampak besar pada pernikahan saya. Suami saya menjadi lebih mudah memahami maksud saya tanpa merasa disalahkan. Percakapan kami berubah, dari yang awalnya berisi pembelaan diri, menjadi ruang diskusi yang lebih aman untuk saling mendengarkan.

Kami pun mulai berani membicarakan hal-hal yang sebelumnya kami hindari—tentang ekspektasi dalam pernikahan, kebutuhan emosional masing-masing, dan bahkan kesepakatan sederhana mengenai pembagian peran di rumah. Prosesnya tentu tidak instan. Ada kalanya kita masih emosional, tapi setidaknya kita sekarang punya cara untuk duduk kembali dan memperbaiki keadaan.

Kejadian ini menjadi titik awal perubahan pola komunikasi kita menjadi lebih baik. Pandemi ini mengajarkan kita bahwa pernikahan itu seperti membesarkan anak, tidak ada tahun yang benar-benar aman. Setiap tahun memiliki tantangan tersendiri yang membuat setiap pasangan semakin berkembang. Pandemi pun membuat kami kembali jatuh cinta untuk yang kesekian kalinya, karena kami mampu melewati tantangan ini bersama-sama dengan sangat baik.

BACA JUGA: 13 Kesalahan Komunikasi pada Pasangan Baru yang Bisa Bikin Pernikahan Gagal

Menutupi: Vitaly Gariev/Pexels


News
Berita Teknologi
Berita Olahraga
Sports news
sports
Motivation
football prediction
technology
Berita Technologi
Berita Terkini
Tempat Wisata
News Flash
Football
Gaming
Game News
Gamers
Jasa Artikel
Jasa Backlink
Agen234
Agen234
Agen234
Resep
Cek Ongkir Cargo
Download Film