Dari bayi hingga remaja, inilah masalah tumbuh kembang anak yang kerap membuat para orang tua bingung atau khawatir, perlu konsultasi ke dokter ya?
Di setiap tahap tumbuh kembang anak, pasti ada hal yang membuat Anda gelisah. Mulai dari bayi, orang tua baru seringkali panik ketika berat badan bayinya sulit bertambah. Lanjut ke tahap balita, langsung orang tua peringatan ketika bicara anak belum lancar atau kemampuan motoriknya belum berkembang sesuai usia. Saat remaja kok badan anak anda lebih pendek dari teman-temannya; dll.
Namun jangan khawatir, ibu tidak sendirian. Wajar jika orang tua mempunyai kekhawatiran terhadap tumbuh kembang anaknya. Sebab, kami ingin anak tumbuh dan berkembang secara maksimal. Oleh karena itu, penting untuk memiliki indikator tumbuh kembang anak yang memungkinkan orang tua memantau dan memastikan tumbuh kembang anak berada pada grafik yang sesuai dengan usianya.
Namun, orang tua juga perlu peka dan tanggap. Jika Anda merasa tumbuh kembang anak Anda tidak normal atau mengalami keterlambatan, konsultasikan ke dokter. Sementara itu, perbaiki gizi dan optimalkan stimulasi yang dibutuhkan anak.
Setidaknya, inilah masalah tumbuh kembang anak yang paling sering ditemui.
Beberapa Masalah Tumbuh Kembang Anak yang Perlu Diwaspadai Orang Tua
1. Masalah tumbuh kembang yang paling umum: stunting dan gizi buruk
Menurut Prof Dr Dr Rini Sekartini, Sp, A (K) Dokter Spesialis Anak dan Konsultan Tumbuh Kembang Sosial Anak, dilansir dari Wanita Indonesia, Indonesia masih mengalami permasalahan stunting (pertumbuhan tinggi badan terhambat karena gizi buruk), wasting (gizi kurang atau gizi buruk akut) dan underweight (berat badan di bawah rata-rata usia anak). Berdasarkan survei Status Gizi Indonesia tahun 2022, 1 dari 5 anak Indonesia mengalami stunting dan 1 dari 12 anak mengalami wasting.
Selain ketiga masalah di atas, belakangan ini obesitas kerap muncul pada anak akibat masalah gizi. Gizi buruk dapat mempengaruhi potensi pertumbuhan fisik dan kecerdasan anak secara optimal, sedangkan obesitas dapat meningkatkan risiko terjadinya berbagai penyakit kronis di masa dewasa anak.
2. Gangguan bicara dan bahasa
Keterlambatan bicara juga mencakup masalah tumbuh kembang yang sering dijumpai pada balita. Penyebabnya antara lain gangguan saraf pada otak, gangguan pendengaran, gangguan mulut seperti bibir sumbing, hingga kurang rangsangan dan terlalu banyak menonton gadget. Sebenarnya, gangguan bicara dan bahasa pada anak sudah bisa dideteksi sejak bayi.
Foto: Gambar oleh freepik
Seperti dilansir dari website Eka Hospital, jika bayi usia 3-4 bulan belum bisa mengoceh (mengoceh), usia 6-7 bulan belum berbalik ketika namanya dipanggil, usia 1 tahun belum bisa mengucapkan satu kata pun, dan usia 2 tahun belum bisa mengucapkan minimal 15 kata, hanya bisa meniru ucapan dan belum tampak mampu berkomunikasi, sehingga anak berhati-hati dalam menunjukkan ciri-cirinya. keterlambatan bicara. Oleh karena itu, orang tua wajib memantau perkembangan bahasa anaknya sejak bayi, bukan menunggu anak beranjak dewasa.
3. Masalah perkembangan motorik
Hal ini sering juga disebut Gangguan Koordinasi Perkembangan. Hal ini tidak hanya terjadi pada balita lho. Bahkan, beberapa kasus baru terlihat jelas saat anak berada di sekolah, baru kemudian diketahui bahwa anak tersebut kurang mendapat rangsangan motorik yang cukup saat masih balita. Tanda-tandanya antara lain gerakan tubuh anak menjadi kaku, tidak lentur, sulit menjaga keseimbangan, mudah terjatuh, berjalan berjinjit, enggan melakukan aktivitas fisik, tulisan anak tidak rapi (karena koordinasi motorik halusnya terganggu) atau bahkan anak menjadi super aktif, karena belum mampu mengendalikan atau mengkoordinasikan tubuhnya.
IDAI menyoroti kasus GPK yang juga sering disebut-sebut secara awam anak canggung atau anak lamban ini merupakan gangguan yang perlu ditindaklanjuti oleh guru dan orang tua. Dampaknya, anak dapat mengalami obesitas karena enggan melakukan aktivitas fisik, prestasi akademiknya menurun atau rendah akibat tulisan yang buruk dan lambat sehingga gagal dalam ujian, kurang mandiri, dan berisiko mengalami kecelakaan (jatuh benda, dll). Gangguan ini juga dapat berdampak pada perkembangan perilaku, emosional, dan sosial anak.
4. Gangguan sosial dan emosional
Mulai dari bayi hingga remaja, kelainan ini sangat mungkin terjadi pada anak-anak. Pada bayi, ciri-ciri umumnya adalah bayi tidak merespon/tersenyum/memperhatikan wajah orang, tidak suka dipermainkan, tidak tertarik pada orang tuanya, dan tidak merespon jika dipanggil. Sedangkan pada anak usia sekolah, ciri-ciri yang muncul adalah mudah tersinggung, agresif, tidak suka bekerja sama, sulit berteman atau cenderung tidak mau berteman.

Foto: Gambar oleh 8photo di Freepik
Pada remaja, gangguan sosial dan emosional akan menjadi semakin kompleks. Hal ini mencakup berbagai masalah seperti kecemasan, depresi, kesulitan mengendalikan emosi, menarik diri dari lingkungan, hingga mengalami krisis identitas dan tekanan mental. Orang tua perlu memperhatikan jika anak menunjukkan perubahan perilaku sehingga kinerjanya menurun dan mengalami gangguan makan dan perubahan fisik, mengajak anak bercerita, atau berkonsultasi dengan psikolog jika gejala yang muncul parah.
Baca juga: 7 Cara Membesarkan Anak dengan Kecerdasan Emosional dan Tips Merangsangnya Menurut Para Ahli
5. Masalah perkembangan kognitif
Pada bayi misalnya, kelainan ini ditandai dengan tidak merespon atau mencari sumber suara, kurang tertarik pada suatu benda atau benda, gerakan mata tidak mengikuti benda tersebut, dan lain sebagainya. Sedangkan pada balita dan anak-anak, biasanya muncul ketika anak tidak dapat mengikuti instruksi sederhana, memiliki kemampuan memori yang buruk, dan sulit fokus.
Pada remaja yang mengalami gangguan kognitif, hal ini biasanya tercermin pada kemampuan berpikir logis, mencerna informasi, dan memecahkan masalah.
6. Gangguan belajar
Anak dengan gangguan kognitif dapat mengalami gangguan belajar karena kesulitan yang dialami anak terhadap kemampuan berpikirnya. Namun tidak semua anak dengan gangguan kognitif akan mengalami gangguan belajar yang sama.
Gangguan belajar yang dapat terjadi pada anak antara lain:
- Disleksia: kelainan yang berkaitan dengan kemampuan menulis, membaca, dan mengeja
- Diskalkulia: gangguan yang berhubungan dengan berhitung
- Dyspraxia: kelainan yang mempengaruhi koordinasi motorik dan gerakan
- Gangguan belajar nonverbal, yaitu gangguan dimana anak tidak memahami bahasa tubuh, ekspresi wajah, dan gerak tubuh.
- dan lainnya.
7. Pubertas dini atau tertunda pada remaja
Saat anak memasuki masa pra remaja, biasanya tinggi badan anak mulai bertambah dengan pesat, dan terjadi perubahan fisik yang merupakan tanda-tanda pubertas. Namun, terkadang kita khawatir ketika anak kita lebih pendek dibandingkan teman sebayanya. Apakah ini normal?

Foto: Gambar oleh freepik
Bunda, jangan dulu galau, karena mungkin saja anak Bunda belum memasuki masa pubertas. Pubertas pada anak perempuan terjadi pada usia 8-13 tahun, sedangkan pada anak laki-laki terjadi pada usia 9-14 tahun. Apabila anak perempuan mengalami pubertas sebelum usia 8 tahun dan anak laki-laki sebelum usia 9 tahun, berarti mereka mengalami pubertas dini.
Menurut dr Aditya Suryansyah, Subspesialis Endokrinologi SpAK, saat anak mengalami pubertas dini, pertumbuhan terjadi lebih cepat, namun pertumbuhan tulang juga lebih cepat menutup. Oleh karena itu, pubertas dini harus diidentifikasi dan ditangani sebagai faktor pemicunya.
Sedangkan jika anak perempuan di atas 13 tahun dan anak laki-laki di atas 14 tahun belum mengalami tanda-tanda fisik yang menunjukkan kematangan seksual, maka dianggap mengalami pubertas tertunda. Perlu adanya konsultasi dengan dokter spesialis anak yang menangani hormon pertumbuhan, untuk melakukan intervensi yang diperlukan anak.
Baca juga: Mengenal Beban Mental Remaja Gen Z: FOMO, Burnout dan Anxiety, Apa yang Harus Dilakukan Orang Tua?
Sampul: Gambar oleh creativeart di Freepik
Agen Togel Terpercaya
Bandar Togel
Sabung Ayam Online
Berita Terkini
Artikel Terbaru
Berita Terbaru
Penerbangan
Berita Politik
Berita Politik
Software
Software Download
Download Aplikasi
Berita Terkini
News
Jasa PBN
Jasa Artikel