Mommies Daily – Pola Asuh Ayah: Perbedaan Pola Asuh Anak Laki-Laki vs Perempuan


Beda gender, beda cara merawat ayah. Cari tahu apa kata penelitian tentang gaya pengasuhan ayah dan pengaruhnya terhadap perkembangan anak.

Bunda, pernahkah Bunda memperhatikan bahwa pasangan kita bisa saja bersikap berbeda saat mendidik anak laki-laki dibandingkan anak perempuan? Ternyata, perbedaan perlakuan ini bukan hanya karena stereotip “laki-laki harus kuat” atau “perempuan harus sopan” – terdapat bukti ilmiah bahwa gaya pengasuhan ayah sebenarnya bisa sangat berbeda berdasarkan jenis kelamin anak, dan hal ini memiliki dampak jangka panjang.

BACA JUGA: 5 Kesalahan Ayah yang Bikin Susah Dekat dengan Anaknya, Ayah Wajib Tahu!

Temuan Penelitian Perbedaan Pola Asuh Ayah

Foto: Freepik

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa dalam membesarkan anak, ayah cenderung menggunakan gaya otoriter saat membesarkan anak laki-laki, sedangkan gaya berwibawa namun hangat lebih sering diterapkan pada anak perempuan. Dalam pola otoriter, kendali tinggi namun kehangatan kurang; sedangkan otoritatif menggabungkan aturan dengan empati dan diskusi.

Selain itu, studi neuroimaging (fMRI) juga menemukan bahwa otak ayah merespons wajah anak secara berbeda tergantung jenis kelamin anak.

Misalnya, ayah yang memiliki anak perempuan lebih peka terhadap ekspresi emosi sedih, dan lebih sering menggunakan kata-kata yang berkaitan dengan emosi dan tubuh dalam berbicara.

Sementara itu, dengan anak laki-laki, ayah lebih sering melakukan permainan kasar (permainan fisik), membicarakan prestasi, dan menggunakan kata-kata kompetitif seperti “menang” atau “bangga”.

Diana Baumrind, psikolog perkembangan terkenal, pernah mengatakan bahwa gaya pengasuhan otoritatif adalah salah satu yang paling efektif karena memadukan kontrol dengan kehangatan. Ia berpendapat bahwa disiplin tanpa empati (gaya otoriter) dapat menjadikan anak patuh, namun tidak selalu membangun rasa percaya diri atau kemampuan berpikir mandiri.

Selain itu, penelitian yang dilakukan oleh James K. Rilling (Emory University) memberikan bukti bahwa interaksi ayah-anak sangat dipengaruhi oleh gender: ayah memberikan respons yang lebih emosional dan hangat terhadap anak perempuan, sementara anak laki-laki lebih fokus pada prestasi dan permainan fisik.

Dampak Pola Asuh Orang Tua Terhadap Perkembangan Anak

Perbedaan ini bukan hanya soal gaya ayah saja, tapi bisa membentuk kepribadian, kepercayaan diri, dan hubungan sosial anak di kemudian hari. Misalnya, jika seorang ayah lebih otoriter terhadap anak laki-lakinya, anak akan tumbuh dengan rasa disiplin dan kemandirian; namun jika terlalu keras tanpa kehangatan, stres emosional bisa timbul. Sedangkan pada anak perempuan, pola asuh yang hangat + komunikatif dapat mendorong perasaan hormat, pengakuan emosional, dan kemampuan mengungkapkan perasaan.

Menurut sebuah penelitian, ayah yang terlibat (bertunangan) secara emosional dengan anak perempuan dapat menunjang kesehatan mental mereka di masa depan.

Sementara itu, keterlibatan ayah dalam membesarkan anak laki-laki – terutama melalui disiplin dan aturan – sangat mempengaruhi perilaku di sekolah dan karakter bertanggung jawab. Robert Brooks, psikolog klinis dan dosen di Harvard Medical School, mengatakan penting bagi orang tua, termasuk ayah, untuk “menerima anak mereka apa adanya” – bukan memaksakan ekspektasi ideal yang mungkin tidak realistis.

Menurut Brooks, ketika seorang ayah menegakkan aturan, ia juga harus memberikan ruang bagi anak untuk mengeksplorasi identitasnya, termasuk perbedaan gender.

Ciri-ciri Pola Asuhan Ayah Berdasarkan Jenis Kelamin Anak

Laki-laki: Otoriter, permainan fisik, pembicaraan tentang prestasi.
+ Tanggung jawab, kemandirian
– Risiko kendali berlebihan, kurangnya empati

Cewek: Berwibawa, responsif, emosional, komunikasi, tubuh dan perasaan
+ Rasa penghargaan, keterampilan ekspresi emosional
– Risiko proteksi berlebihan

Mengapa pola asuh ayah berbeda-beda?

Foto: Freepik

Ada beberapa faktor mengapa ayah mungkin bertindak berbeda terhadap anak laki-laki dan perempuan:

1. Harapan Sosial Gender

Banyak ayah yang dibesarkan dengan stereotip “anak laki-laki harus kuat, kompetitif” dan “perempuan harus lembut dan emosional”. Disadari atau tidak, harapan tersebut bisa diteruskan dalam mengasuh anak.

2. Reaktivitas Otak

Penelitian fMRI menunjukkan, otak ayah merespons ekspresi wajah anak secara berbeda berdasarkan gender. Artinya, tidak hanya perilaku, sirkuit otak ayah juga bisa berada dalam “mode berbeda” ketika berhadapan dengan anak laki-laki vs anak perempuan.

3. Harapan Pembangunan

Ayah mungkin merasa lebih “aman” dengan melakukan kontrol yang keras terhadap anak laki-lakinya agar mereka tumbuh tangguh, sedangkan dengan anak perempuan, ayah mungkin lebih bersedia menjalin kedekatan emosional, mendiskusikan perasaan, dan membangun ikatan yang lebih hangat.

Apa Artinya Bagi Pola Asuh Kita?

Sebagai orang tua, penting untuk menyadari bahwa perbedaan pola asuh tidaklah salah, namun tetap dapat menimbulkan konsekuensi. Berikut beberapa hal yang bisa kita lakukan agar pola asuh ayah kita (dan pola asuh bersama) menjadi lebih seimbang dan positif:

  1. Dorong komunikasi terbuka. Ajaklah para ayah untuk berbicara kepada anak-anak mereka (laki-laki dan perempuan) tidak hanya tentang peraturan, tetapi juga perasaan, impian dan tantangan.
  2. Berikan ruang untuk eksplorasi. Jangan batasi jenis permainan atau minat anak berdasarkan gender. Laki-laki bisa bermain memasak, perempuan bisa bermain mobil.
  3. Latih kesadaran diri (pengaturan diri) pada ayah. Menurut penelitian parenting, kemampuan orang tua dalam mengatur emosi dan reaksi erat kaitannya dengan pola asuh adaptif.
  4. Pelajari jenis-jenis pengasuhan anak. Gaya pengasuhan yang seimbang (mis berwibawa) cenderung menghasilkan anak yang lebih mandiri, percaya diri, dan sehat secara emosional.
  5. Terimalah anak apa adanya. Brooks, penerimaan tanpa syarat sangat penting untuk membangun kepercayaan diri dan ketahanan emosional pada anak-anak.

Perbedaan cara ayah mengasuh anak laki-laki dan perempuan merupakan hal yang nyata dan didukung oleh penelitian. Namun yang terpenting bukanlah menilai mana yang lebih baik, namun menyadari pola-pola tersebut sehingga kita dapat menciptakan lingkungan pengasuhan yang sehat, empati dan mendukung perkembangan positif anak, apapun gendernya.

BACA JUGA: Fakta Dad Burnout yang Sering Diabaikan: Kenali Tanda-tandanya dan Cara Mengatasinya

Sampul: Freepik



Agen Togel Terpercaya

Bandar Togel

Sabung Ayam Online

Berita Terkini

Artikel Terbaru

Berita Terbaru

Penerbangan

Berita Politik

Berita Politik

Software

Software Download

Download Aplikasi

Berita Terkini

News

Jasa PBN

Jasa Artikel