Simak bagaimana Aditya Naratama menjalankan perannya sebagai seorang ayah, meski setiap hari bekerja, waktunya hanya tersisa sedikit.
Sebagai seorang pekerja dan pencari nafkah, “sibuk” menjadi alasan paling klise yang kerap dijadikan penghambat seorang ayah untuk bisa dekat dengan anaknya. Padahal, kesibukan yang seharusnya menjadi tantangan bagi para ayah untuk terus berusaha, bagaimana tetap memiliki waktu berkualitas bersama anak. Seperti yang dilakukan Aditya “Ndit” Naratama (41) kesehariannya, sebagai seorang ayah yang sibuk berkecimpung di dunia radio, membuat musik, dan terkadang menulis untuk film pendek.
Dengan sederet pekerjaan yang pasti menyita sebagian besar waktu yang ada, bagaimana Ndit bisa tetap memiliki waktu berkualitas bersama keluarga?
Dari hari kerjapasti hanya ada sedikit waktu tersisa. Namun, aku punya pola tersendiri dalam mengatur aktivitasku bersama Sema (6). Pagi hari saat Sena bersiap-siap ke sekolah adalah kesempatanku untuk menerapkan kedisiplinan. Dengan menyiapkan sarapan, aku ingin dia melihatnya tindakan pelayanan dan merasa lebih dekat dengan ayahnya. Selama perjalanan ke sekolah, saya mengajaknya berimajinasi, seolah-olah kami sedang melakukan petualangan kecil. Malam hari adalah waktu terbaik intim, yaitu dengan bercerita dan menyisipkan sedikit sandiwara sebanyak-banyaknya, sebelum dia “mencampakkanku” dan beralih memeluk ibunya, setiap kali cerita selesai! Hahaha, jadi kesempatan ini jangan disia-siakan.
Foto: Dokumentasi Pribadi
Dari akhir pekan, kita mempunyai lebih banyak waktu luang, dengan aktivitas yang lebih variatif. Saya benar-benar merasakan perbedaan besar saat kami bertiga bepergian (bersama istri) dan saat hanya berdua. Biasanya saat kami sendirian, saya memberikan kesempatan kepada Sema untuk menjadi lebih setara melalui kebebasan yang lebih besar, namun tetap memberi kami beberapa tugas untuk dikerjakan bersama, sebagai sebuah tim.
Berbicara mengenai parenting, menurut Anda seberapa pentingkah peran seorang ayah?
Meski menurut saya tidak bisa disamakan dengan level seorang ibu, namun ayah memegang peranan yang sangat penting dalam pembentukannya (pemetaan) pola pikir anak, mengasah persepsi anak terhadap dunia dan cara menyikapinya. Menurut saya, peran ayah yang ideal pada tingkat dasar adalah mempersiapkan anak menjadi ujung tombak di bidangnya kelangsungan hidup keluarga. Ini bukan sekadar mencari nafkah dan mengurus rumah tangga, tapi untuk mempersiapkan diri jika, amit-amit, terjadi cobaan lahiriah atau batin.
Nilai-nilai apa yang ingin Anda tanamkan pada anak Anda dan apa yang membuat nilai-nilai tersebut penting?
Menurut saya, ada empat hal yang harus ditaruh pada diri ayah, yaitu ketuhanan (iman), ilmu, harkat dan martabat, dan jangan lupa memastikan anak selalu tahu cara bersenang-senang. Namun untuk saat ini, yang sering aku katakan kepada anak-anakku adalah: “Kamu boleh jadi anak nakal, asal kamu sayang Mama.” Bagi saya nakal merupakan proses penting dalam perkembangan nalar anak, harus difasilitasi agar tidak menjadi “aneh”, dan batasnya adalah penilaian ibu.
Selain itu, karena anak saya masih laki-laki, dia harus memahami bahwa laki-laki memiliki kecenderungan untuk bertindak sesuka hati. Namun jika dihadapkan pada hal-hal yang prinsip, kita harus segera bertindak dewasa, terutama jika menyangkut ibu, jantung keluarga. Ketika seorang anak berani melanggarnya, saya yang tadinya sekutu, tiba-tiba bisa menjadi “polisi” yang turun untuk menegakkan aturan. Saya melakukan ini untuk menunjukkan bagaimana mengambil sikap sebagai pelindung. “Dia wanitaku, jangan berani-berani main-main kawan, kamu akan mendapat masalah besar!”itulah yang saya katakan dengan sikap mengancam, jika anak saya berani bermain fisik dengan ibunya (mendorong/memukul).
Ini mungkin tidak ideal, tapi aku juga membiarkan anakku memukulku, sambil aku berkata, “Kalau kamu marah sekali sampai merasa perlu memukulku, pukul saja Papa, tidak ada yang lain.”
Apa kalimat favorit yang paling sering Anda ucapkan kepada anak Anda?
Saat anak saya meminta sesuatu ─bukan sekadar barang atau camilan, bisa juga jawaban dari pertanyaan yang membuatnya penasaran─Aku selalu menahannya, dan jika dia mulai kesal dan marah, aku akan bergumam, “Ada satu senjata, senjata paling ampuh di seluruh alam semesta…” dia pasti langsung tahu kalau aku yang memintanya melakukan “lip punch” alias ciuman, hehehe.
Baca juga: 75 Lelucon Gila tapi Selalu Bikin Tertawa
Sebagai seorang ayah, kekhawatiran apa yang Anda miliki saat ini?
Ketakutan saya saat ini dan di masa depan adalah kesenjangan, baik antara dia dan kita, dengan masyarakat, dengan hati nurani, dengan akar kebangsaannya, dengan Tuhan, atau bahkan dengan dirinya sendiri. Saya pernah membayangkan anak saya menjadi atheis, namun bagi saya pribadi, yang saya khawatirkan bukan soal keyakinannya, melainkan keterputusan kami sebagai orang tuanya. Saya membayangkan bagaimana dia akan menganggap kami terbalik, dan pada akhirnya tidak lagi menganggap penting apa pun yang kami pikirkan dan rasakan. Jadi menurut saya, penting sekali bagi kita untuk kembali ke asal usul kita sebagai orang yang beriman kepada Tuhan.
Jadi apapun yang terjadi nanti dan jika dia tersesat, saya ingin pintu rumah selalu terbuka untuk dia pulang. Di sana dialog bisa terjadi lagi, dan dia bisa melakukannya mempertimbangkan kembali pilihan yang akan dia ambil selanjutnya.
Dukungan keluarga yang membuat Anda tetap semangat?
Satu hal yang selalu kuucapkan dalam doa syukur di hari ulang tahun adalah kita dikaruniai kedekatan satu sama lain. Modal saling mencintai membuatku selalu merasa kaya, dan menurutku, dengan modal itu, ujian apapun akan layak untuk dilalui dan diperjuangkan. Jadi dukungannya halus dan apa adanya, tetap bersatu, mencintai dan menghormati satu sama lain, dan tetap setia pada akar kita.
News
Berita Teknologi
Berita Olahraga
Sports news
sports
Motivation
football prediction
technology
Berita Technologi
Berita Terkini
Tempat Wisata
News Flash
Football
Gaming
Game News
Gamers
Jasa Artikel
Jasa Backlink
Agen234
Agen234
Agen234
Resep
Cek Ongkir Cargo
Download Film