Salah satu tantangan bagi pasangan yang baru menikah adalah menghadapi keluarga besar. Tenang saja, berikut tips lengkapnya.
Jangan terlalu naif dan jujur saja, pernikahan bukan sekedar belajar hidup bersama pasangan. Pernikahan juga tentang belajar hidup bersama keluarga besar! Orang tua, mertua, bibi, paman, sepupu, saudara kandung. Bagi sebagian orang, hal ini memang menyenangkan, namun jika suka mencampuri urusan orang lain pasti akan menjengkelkan.
Apalagi bagi orang yang baru menikah, dinamika keluarga besar mungkin terasa menakutkan. Apalagi saat momen besar seperti Idul Fitri. Beberapa cerita horor mertua dan keluarga yang sering muncul di media sosial terkadang ada benarnya juga.
Nah, dari satu pasangan ke pasangan lainnya, berikut tips menghadapi keluarga besar yang dilakukan oleh pasangan yang sudah menikah cukup lama.
Foto: Proyek Saham RDNE/Pexels
1. Tunjukkan kesatuan
Keluarga mungkin mencoba mendekati salah satu dari Anda secara terpisah. Entah itu menanyakan pertanyaan sensitif atau meminjam uang. Berbicara sebagai “kita” menunjukkan kesatuan dan mencegah misinformasi.
2. Selalu bicara dengan pasangan terlebih dahulu
Sebelum menanggapi permintaan, komentar, atau tekanan dari keluarga, diskusikan terlebih dahulu dengan pasangan. Misalnya, sebelum menyetujui untuk tinggal bersama orang tua, ada baiknya berdiskusi terlebih dahulu dengan suami.
3. Menentukan frekuensi kunjungan bersama
Terlalu banyak kunjungan dapat membebani pengantin baru, sementara terlalu sedikit kunjungan dapat melukai perasaan keluarga. Keseimbangan adalah kuncinya, dan harus diputuskan bersama pasangan. Setelah disepakati, komunikasikan dengan jelas.
4. Lindungi waktu Anda bersama
Pasangan yang baru menikah membutuhkan ruang untuk menjalin ikatan dan beradaptasi. Kehadiran keluarga yang terus-menerus dapat mengganggu proses ini. Misalnya, malam hari adalah waktu “tanpa tamu” sehingga Anda bisa bersantai bersama.
5. Tetapkan batasan
Banyak keluarga biasanya bersedia terlibat. Tetapkan batasan dengan mereka. Jika mommy atau suami menjelaskannya dengan tenang dan konsisten, kemungkinan besar keluarga akan menghormatinya.
6. Seimbangkan kedua keluarga secara adil
Adil tidak selalu berarti setara, namun berarti penuh pertimbangan. Kebencian bisa tumbuh ketika salah satu pihak merasa diabaikan. Misalnya, jika lebaran tahun lalu bersama keluarga suami, maka tahun ini bersama keluarga ibu.
7. Tetapkan ekspektasi sejak awal
Harapan yang tidak terekspresikan seringkali berujung pada kekecewaan. Ini bisa berupa apa saja. Sebelum menikah, suami saya berjanji akan menghidupi adiknya. Namun berbeda jika Anda sudah menikah. Keluarga suami mungkin menganggap segalanya akan tetap sama kecuali jika Ibu mengatakan sebaliknya.
8. Tangani saran yang tidak diminta dengan bijak
Nasihat seringkali datang dari rasa kasihan, namun bukan berarti mommy harus mengikuti semuanya. Akui, syukuri, dan putuskan secara pribadi.
9. Rencanakan liburan keluarga sejak dini
Musim liburan penuh dengan emosi. Perencanaan lebih awal menghindari stres dan rasa bersalah di menit-menit terakhir. Hal ini juga menunjukkan rasa hormat terhadap kedua keluarga.
10. Ciptakan tradisi keluarga Anda sendiri
Pernikahan menandai dimulainya unit keluarga baru. Sederhana saja, seperti para ibu dan suami yang memulai liburan di rumah setelah lebaran hanya untuk berdua.
BACA JUGA: Lebih Baik Suami Istri Punya Rekening Bersama atau Terpisah? Inilah yang dikatakan para pakar keuangan
11. Menekankan nilai-nilai bersama
Yang penting kita menjaga silaturahmi. Nah, kalimat ini bisa jadi jawaban ketika ada anggota keluarga yang protes dan merasa ditinggalkan. Ingat, Anda sudah menjadi keluarga lain, jadi tidak perlu terlalu terlibat dalam urusan keluarga besar.
12. Pilih pertempuran Anda dengan bijak
Jangan terlalu sering terluka. Biarkan komentar kecil berlalu karena tidak semuanya perlu dibenahi. Lebih baik hemat energi!
13. Jangan bandingkan keluarga
Perbandingan memicu rasa iri. Setiap keluarga berbeda. Oleh karena itu, hindari mengatakan, “Orang tuaku tidak melakukan hal itu.”
14. Beristirahatlah saat kewalahan
Berurusan dengan keluarga besar bisa menjadi hal yang sangat melelahkan bagi siapa pun. Tidak apa-apa untuk menjauh sejenak. Misalnya kalau ada acara kumpul keluarga, tidak apa-apa kalau tidak datang. Yang penting siapkan alasan yang masuk akal.
15. Tertawa saja
Humor membantu melepaskan ketegangan. Kedengarannya klise, ya. Namun, ketika ada masalah keluarga yang membuat Anda kesal, atau Anda menghadapi pertanyaan seperti “Kapan hamil?”, terkadang mereka menganggapnya lucu dan hanya menertawakannya, oke?
16. Periksa perasaan Anda setelah acara keluarga
Meski kita ingin menertawakan mereka, namun perkataan dan tingkah laku mereka bisa saja menyakiti kita. Jangan dipendam, setidaknya bicarakan perasaan Mommies dengan pasangan secara terbuka.
17. Terimalah ketidaksempurnaan setiap keluarga
Tidak ada keluarga yang sempurna. Itu normal. Mommies bisa fokus pada momen, bukan kekurangan saat bertemu keluarga besar.
18. Belajar mengatakan “tidak” tanpa rasa bersalah
Mengatakan “tidak” adalah bagian dari kedewasaan. Kamu tidak perlu menuruti semua keinginan keluargamu.
19. Memberikan alternatif bila menolak
Alternatif dapat meredakan kekecewaan dan menjaga hubungan tetap hangat. Tak bisa datang ke rumah mertua, mungkin bisa menjadwalkan waktu di tempat lain seperti makan di restoran.
20. Cocokkan suaramu dengan suamimu
Masalah keuangan, kesuburan dan masalah pernikahan harus diputuskan bersama. Jawaban yang konsisten mengurangi tekanan dari pihak luar.

Foto: Dmax Tran/Pexels
21. Jangan melibatkan keluarga dalam konflik perkawinan
Selesaikan masalahnya secara pribadi terlebih dahulu. Daripada menelepon orang tua setelah bertengkar, Bunda dan suami bisa membicarakannya bersama.
22. Dukung pasangan Anda secara emosional
Ketegangan dengan mertua memang bisa menyakitkan. Dukungan emosional membangun kepercayaan. Hindari mengkritik keras keluarga pasangan Anda.
23. Hormati perbedaan budaya
Ibu dan suami berbeda etnis? Perbedaan tersebut mungkin mempunyai nilai budaya yang berbeda. Ada baiknya Anda mengetahui hal ini sebelum menikah, ya.
24. Tetap konsisten dengan batasan
Jika Anda bilang tidak boleh ada kunjungan mendadak, jangan sering-sering membuat pengecualian untuk keluarga lain. Tetap berpegang pada apa yang telah dikatakan.
25. Jangan mengucapkan kata-kata kasar terhadap keluargamu
Bahasa yang tenang membuat diskusi tetap produktif, meski mungkin Bunda dan suami gatal untuk berbicara kasar.
26. Memberikan jaminan
Keluarga seringkali khawatir akan kehilangan kedekatan setelah menikah. Kepastian membantu mereka menerima batasan dengan lebih baik.
27. Percayalah pada insting Anda
Jika ada sesuatu yang terasa tidak nyaman ketika ada anggota keluarga yang meminta bantuan, berhentilah sejenak sebelum menyetujuinya. Cobalah berbicara dengan pasangan Anda.
28. Jangan terburu-buru dalam berbaikan
Memang saling meminta maaf itu baik. Namun apa jadinya jika Ibu selalu meminta maaf sedangkan anggota keluarga besarnya tidak menyadari bahwa tindakan atau perkataannya menyakitkan. Beri dia waktu agar dia tahu konsekuensinya.
29. Berikan sebuah contoh
Tunjukkan komunikasi yang sehat daripada menjelaskannya. Orang lain akan menyadarinya.
30. Sesuaikan batasan seiring pertumbuhan Anda
Batasan berubah seiring matangnya pernikahan. Apa yang dirasa penting saat ini mungkin akan berubah di kemudian hari. Ibu bisa perlahan meningkatkan kunjungan keluarga setelah komunikasi membaik.
BACA JUGA: Dulu Kita Jalin Hubungan Romantis, Tapi Setelah Menikah, Kenapa ‘Berbeda’? Inilah yang dikatakan para psikolog!
31. Terkadang niatnya baik, kok
Nasihat sering kali datang dari suatu hal yang memprihatinkan, meskipun terasa menjengkelkan. Kesal karena keluarga mengejarmu saat kamu hamil? Tetap menyikapi dengan ramah, meski diberi batasan.
32. Pilih cinta daripada ego
Bereaksi dengan lembut akan mencegah konflik yang lebih besar. Ibu bisa tetap tenang dibandingkan menanggapi pertengkaran keluarga besar. Kedamaian lebih berharga daripada kemenangan.
33. Rayakan kemenangan kecil
Tidak setiap pertemuan harus sempurna. Kunjungan keluarga tanpa drama juga sukses lho.
34. Lindungi keamanan emosional
Pernikahan seharusnya terasa mendukung, bukan melelahkan. Batasi interaksi yang melelahkan. Hal ini sebenarnya dapat mempersingkat kunjungan yang penuh tekanan dengan kerabat.
35. Jadikan pernikahan sebagai prioritas
Jika ada masalah dalam keluarga besar, ingatlah untuk mengutamakan pernikahan. Pada akhirnya, sekarang Anda sudah menikah dan menjadi satu.
36. Bertingkah laku seperti orang dewasa, bahkan di rumah
Tinggal bersama orang tua bisa memicu kebiasaan lama. Tetap bertanggung jawab dan mandiri dalam perilaku Anda. Misalnya, Anda mengelola keuangan Anda sendiri.
37. Membantu pekerjaan rumah tangga
Tips lainnya bagi yang tinggal bersama mertua. Kontribusi bantuan rumah tangga dapat membangun hubungan yang baik. Misalnya, Ibu membantu memasak atau bersih-bersih tanpa diminta.
38. Jagalah romansa tetap hidup
Masih baru menikah, mungkin hubungannya masih hangat. Jangan terbawa suasana dan bermalas-malasan, karena keintiman tetap penting. Rencanakan momen bersama, meski sekadar minum kopi bersama.
39. Sepakati batasan dengan mertua
Diskusikan apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Komunikasikan hasil sebagai sebuah tim.
40.Rencana kemerdekaan
Jika tinggal bersama keluarga hanya bersifat sementara, bicarakan batas waktu kapan harus pindah. Memiliki tujuan membantu secara emosional.

Foto: Proyek Saham RDNE/Pexels
41. Tangani pertanyaan tentang bayi dengan tenang
Tekanan seringkali datang dari rasa ingin tahu anggota keluarga. Tetap tenang, jangan defensif.
42. Hormati orang tuamu tanpa berlebihan
Menghormati orang tua memang sangat penting, terutama dalam keluarga yang erat atau tradisional, namun menghormati bukan berarti melepaskan otonomi Anda sebagai pasangan suami istri. Mendengarkan nasehat menunjukkan kedewasaan, namun keputusan akhir harus selalu diambil bersama sebagai suami istri.
43. Jangan terlalu banyak menceritakan masalah pernikahan
Dukungan keluarga dapat memberikan kenyamanan, namun terlalu banyak berbagi tentang perselisihan pribadi sering kali mengundang opini, penilaian, atau campur tangan jangka panjang.
44. Tangani masalah dengan tenang dan segera
Kesalahpahaman kecil perlahan bisa berubah menjadi kebencian jika tidak dibicarakan. Bila kebiasaan keluarga suami membuat Ibu tidak nyaman, sebutkan secara halus sejak awal.
45. Hindari memihak
Mendukung pasangan bukan berarti menyerang keluarga, dan menghormati keluarga bukan berarti mengabaikan suami. Tujuannya adalah keseimbangan dan perlindungan pernikahan.
46. Pelajari kapan harus diam
Tidak semua komentar keluarga memerlukan tanggapan. Diam bisa mencegah konflik yang tidak perlu, lho.
47. Jangan sampai keluarga besarmu mengabaikan wibawamu sebagai orang tua
Demikian tips bagi pasangan baru yang mempunyai anak. Kakek dan nenek mungkin mempunyai niat baik dalam membesarkan cucu mereka, namun orang tua tetaplah yang mengambil keputusan akhir.
48. Melindungi anak dari konflik orang dewasa
Anak-anak tidak boleh menyaksikan pertengkaran atau merasa terjebak di antara anggota keluarga yang sudah dewasa. Keamanan emosional sangat penting.
49. Tumbuh bersama, bukan terpisah
Hadapi tantangan keluarga sebagai sebuah tim. Saling mendukung dalam proses pembelajaran.
50. Jadikan pernikahan sebagai prioritas
Pasangan dalam pernikahan adalah prioritas utama. Pernikahan yang kuat bermanfaat bagi semua orang, termasuk keluarga besar.
BACA JUGA: Awal Pernikahan Tak Selalu Manis: 7 Hal yang Sering Jadi Sumber Konflik
Pengarang: Imelda Rahma
Sampul: foto tekan/Freepik
News
Berita Teknologi
Berita Olahraga
Sports news
sports
Motivation
football prediction
technology
Berita Technologi
Berita Terkini
Tempat Wisata
News Flash
Football
Gaming
Game News
Gamers
Jasa Artikel
Jasa Backlink
Agen234
Agen234
Agen234
Resep
Cek Ongkir Cargo
Download Film